Minggu, 23 Agustus 2015

Nurul Fikri Boarding School (2) ..KAMI TITIP ANANDA, USTADZ...

     Tulisan yang ini, masih seputaran tentang anak yang meninba ilmu di Boarding School. SMPI Nurul Fikri Boarding School Serang. Kenapa Cinangka, yaa... karena sekolah ini terletak di desa Cinangka hehhe...
     Terselip di file-file lama, rasanya mending saya posting disini deh. Karena komputer saya yang sudah udzur makin kesini makin sering ngadat. Jadi daripada tulisan ini tersimpan sedih, kadang bisa dibuka dengan cepat dan cuma loading gak jelas juntrungan mending saya simpan disini saja.

     Ya sudah deh.. langsung copy paste aja

Kami Titip Ananda, Ustadz....



Ketika membuka email, mata saya terpaku pada menu. Ada draft email yang belum saya selesaikan. Berencana mengirimkan ke milis nfbs “Mari Bercerita Tentang Anak” tapi karena ini dan itu, tulisan ini terbengkalai dan tak terselesaikan. Maka jadilah saya sertakan disini.


Liburan telah usai. Saatnya mengantarkan ananda kembali ke asrama Talhah Bin Ubaidillah. Ini tahun ke 2 ananda menuntut ilmu di Nurul Fikri. Sudah Napak kalau orang bilang. Sudah menemukan pola hidup di asrama, menemukan teman-teman yang klik, menyiasati kebosanan dengan kegiatan yang menggembirakan. Alhamdulillah.

Berbincang dengan wali asrama, face to face, adalah hal langka bagi kami, karena jarangnya kami menjenguk ananda. Karena faktor jarak, waktu dan tentunya biaya. Sejak kami pindah ke Kuala Lumpur  ritual  dwi mingguan menikmati perjalanan Jakarta-Cinangka tak lagi bisa kami lakukan.

Sama langkanya dengan menikmati perjalanan dengan pemandangan damainya pedesaan melalui Ciomas-Padarincang sambil sesekali membeli hasil bumi penduduk yang dijual di pinggir jalan. Atau melintasi Cilegon-Anyer memandang sesaknya kawasan pabrik yang berdebu kemudian berganti kawasan pantai yang indah sambil sesekali membicarakan jalanan yang rusak yang belum juga diperbaiki pemerintah setempat. Menembus kemacetan, panas terik atau cuaca hujan.

Pagi itu ustadz Ruslik bercerita tentang anak-anak. Bagaimana tingkah polah mereka di usia remaja, usia peralihan ini. Segera terbayang dibenak saya, yang selama ini , dirumah, sering memutar otak menghadapi tiga anak berbeda umur dan sifat. Cukup menantang. Lha ini langsung sekaligus menghadapi lebih dari 30 anak usia peralihan dengan watak dan latar belakang yang berbeda-beda.. terbayang pusingnya.

Tapi sepertinya ustadz Ruslik menghadapi dengan enjoy.  Mewadahi mereka yang mempunyai segala macam minat yang beragam. Ada club futsal “broken lamp” bagi yang suka bermain bola sepak (Dinamakan Broken Lamp, karena seringnya anak-anak main bola di dalam asrama, in door gitu, dan memecahkan lampu ruangan haha) . Mengajak sparring partner bagi yang galau agar galaunya bisa disalurkan ke hal-hal yang tidak merugikan diri sendiri atau teman. Membiarkan mereka perang blau di kolam renang.  Membiarkan mereka main petak umpet bak kanak-kanak di gedung baru yang sedang dibangun.  Menyiasati santri yang sering merasa ga enak badan ketika jam sekolah, tetapi segera sembuh ketika jam main basket tiba J. Memanggilkan tukang cukur rambut untuk cukur rame-rame di asrama. Mengambil gambar santri satu demi satu sekedar untuk memuaskan hati kami –para ibu- yang suka rindu tak tahu waktu...

Ah..terima kasih ustadz.

Setelah mengantar ananda ke asrama, kami langsung menuju bandara untuk pulang. Hari sudah sore. Sambil menunggu waktu check in, iseng kami menuju musholla di terminal F. Tak disangka bertemu ustadz Agung yang sedang selonjoran dilantai  ditemani sang anak. Rupanya ustadz Agung sedang menunggu rombongan dari Makasar yang karena satu hal, pesawat delay beberapa jam dan terlambat mendarat di Soekarno Hatta. Ada raut letih disana. Tapi ketika ngobrol, yang tertangkap oleh telingan saya hanyalah nada suara penuh permakluman. Tidak marah dan tidak jengkel... eh jengkel mungkin ada, tapi tak tertangkap oleh kami.. 

Langsung sekelebat ingatan saya berlompatan ke kejadian sebelumnya. Ketika di awal liburan ananda akan pulang ke Kuala Lumpur, menumpang travel sekolah dari NF menuju Soekarno-Hatta. Suami saya sudah menunggu disana. Serah terima santri berikut barang bawaanpun terjadi. Ustadz Agung menyerahkan ananda ke suami. Karena penerbangan kembali ke KL masih sore nanti sedangkan saat itu hari masih pagi, jadilah ananda dan suami jalan-jalan dulu ke sebuah mall di Jakarta Barat. Sampai tiba-tiba ananda tersadar bahwa tas berikut laptopnya tertukar dengan salah seorang temannya, yang kebetulan tasnya mirip sekali.  Bergegas ananda kembali ke bandara (tapi se-bergegas-bergegasnya, jarak Jakarta Barat dan Cengkareng dengan segala kemacetannya tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar). Dan... ustadz Agung masih disana menunggu transaksi penukaran tas dan laptop ke pemilik sesungguhnya, sambil menunggu anak-anak yang lain satu demi satu check in dan boarding ke pesawat masing-masing dengan tujuan yang berbeda-beda, jam  penerbangan yang berbeda-beda. Sungguh.. jarak cengkareng-Cinangka bukan jarak yang dekat, terbayang pukul berapakah ustadz Agung akan sampai kembali di rumahnya. Pastilah telah jauh larut. Padahal sebelumnya berangkat dari Cinangka menuju Cengkareng dipagi buta, bahkan adzan Subuh pun belum berkumandang.

Ah... Terima kasih Ustadz..

Rasanya ucapan terima kasih tak jua cukup untuk apa telah mereka, para ustadz berikan. Maka ijinkan saya berucap : Semoga Allah membalas kebaikan para ustadz/ah dengan kebaikan berlipat ganda. Kebaikan untuk ustadz/ah dan keluarga. Kebaikan di dunia dan di akhirat.


Kuala Lumpur, 24 Maret 2014

2 komentar:

  1. wah...ada nama saya disebut. dengan bunda siapakah ini ?

    BalasHapus
  2. Maaf ustadz.. ehehehe, postingan lama nih, 6tahun yg lalu...
    Saya bundanya Zaidan Athief

    BalasHapus