Wanita Sholehah
BBM group Wanita sholehah NF
ini dibuat sejak tahun pertama anak-anak bersekolah di NF. Saya lupa, dulu, apa
alasan group ini dibuat. Karena sebetulnya sudah ada BBM group masing-masing
asrama, sejak kelas 7 sampai kelas 9. Mungkin..mungkin alasannya untuk memudahkan sesama bunda agar
saling mengenal meskipun secara fisik jarang atau bahkan belum pernah berjumpa.
Pada masa-masa awal, group
ini lebih sering sepi tak ada percakapan. Sesekali hanya ada
postingan-postingan copas dari group lain yang disambut dengan gambar jempol,
senyum, gabungan jempol dan senyum. Itu saja. Garing ? Iya, hehehe
Tapi seiring berjalannya
waktu, percakapan demi percakapan mulai mengalir. Topik seputar anak-anak,
pelajaran dan beragam kisah di asrama rupanya menjadi magnet yang kuat untuk saling bersahutan. Bertukar
keluh kesah yang dikemas canda jika rindu ananda mulai melanda adalah hal yang
paling sering terjadi. Satu hal yang tentunya akan canggung dilakukan di group asrama, dimana disitu ada
wali asrama dan para bapak, jaim tentu J
Bagi sebagian orang tua yang
tinggal jauh diluar jabodetabek (termasuk saya ketika di tahun ke dua harus
meninggalkan Jakarta berpinda ke Kuala Lumpur, sedangkan Nufimart- minimart internal di dalam kawasan sekolah- belum ada pelayanan by phone) group ini
juga menjadi andalan sarana penitipan belanjaan untuk logistik ananda jika ada
salah satu bunda akan menjenguk anaknya. Dipelopori oleh ibu ketua (Terima
kasih bu Vera) , akhirnya kebiasaan membuka jasa penitipan menular ke para
bunda yang lain. Indahnya jika yang menular adalah hal-hal yang positif...
Saat-saat group ramai bunyi
tang-ting-tung tak berhenti biasanya jika ada foto yang diposting ortu yang
berkunjung ke asrama. Foto-foto anak-anak yang sedang tengkurep berlaptop ria,
sedang makan bareng, sedang ada kegiatan sekolah. Komentar-komentar usil ikut
mewarnai postingan foto demi foto. Seakan kami telah saling mengenal lama
sebelumnya.
Komunikasi di group ini pula
yang memudahkan berkoordinasi untuk mendukung kegiatan anak-anak jika ada
perjalanan keluar sekolah. Study tour, Kunjungan ilmiah, Islamic Book Fair,
nonton bareng Negeri Lima Menara. Lengkap dengan konsumsinya. Sayangnya kebijakan
BBM group hanya berkapasitas 30 member. Andai bisa memuat lebih tentu akan makin
riuh.
Sependek pengalaman saya di perkumpulan orang tua murid,
belum pernah saya menemukan ikatan sedalam ini dengan sesama walimurid yang
lain. Bukan hanya hubungan sesama bunda di dunia per-bbm-an, perhatian para bunda terhadap anak-anak pun demikian tulus. Mereka memperlakukan senganggap anak sendiri kepada semua teman seasrama anak-anak mereka.
Ketika di suatu masa, hampir seisi asrama kompakan demam, seorang bunda
datang membawakan pil cacing pereda demam. Bukan hanya untuk putranya, tapi
untuk semua anak yang sakit. Memeriksa satu demi satu dahi anak-anak. Membawakan telur rebus untuk menambah daya tahan
tubuh anak-anak seisi asrama. Di lain kesempatan seorang bunda membawa bubur.
Atau tekwan. Atau buah hasil kebun. Atau rendang. Dan aneka macam makanan.
Rasanya tiada hari kunjungan tanpa buah tangan orang tua. Hari Sabtu dan Minggu adalah hari dimana makanan dari dapur pesantren menjadi makanan yang tidak ditunggu-tunggu, kalah bersaing dengan makanan dari para orang tua yang sedang berkunjung. Dan...membuat saya
membayangkan betapa enaknya jadi santri J
Namun disetiap perjumpaan
tentu ada perpisahan. Seiring dengan selesainya masa SMP putra-putra kami, tentunya intensitas dan frekwensi komunikasi group ini akan semakin berkurang, bahkan mungkin dibubarkan.Tapi untuk group ini, jika boleh berharap, semoga tak ada
perpisahan . Selepas kelas 9, meskipun kita tak lagi dalam wadah yang sama,
semoga silaturahim ini tetap terjaga.
Khusus untuk Zaidan, anakku, kenanglah nak,
selain ibumu ini, diluar sana banyak bunda-bunda lain yang pada suatu kurun
waktu turut memperhatikanmu, menjagamu, mendoakanmu. Selipkan mereka dalam
untaian doa-doamu.
JazakunnAllah khairon katsir
para Bunda. Salam hormat dan ukhuwah.
Yusfiana Alfi
Kuala Lumpur, 28 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar