Bus belum bergerak. Lumayan lama kami berada di bus. Tidak jelas, menunggu hujan reda atau menunggu kabar aliran lalu lintas menuju Arafah sedikit longgar. Karena pada saat-saat seperti ini lalu lintas begitu padat karena seluruh jamaah calon haji berbondong-bondong menuju arah yang sama. Kami bertalbiyah.
Diwarnai kejadian bus nyasar karena sopir tak tahu jalan, disebelah mana tenda regu kami berada, adalah hikmah tersendiri. Kami tak basah kuyup di dalam tenda.. Alhamdulillah.. Karena pada saat sopir sibuk mencari arah, rupanya tenda kami tempias oleh air hujan yang begitu deras. Bahkan air menggenangi karpet-karpet alas tenda. Sebelum berangkat ke tanah suci, mengingat saya suka sesak nafas ketika menghirup debu, ibu saya menasehatkan untuk membawa alas kain karena karpet tenda yang disediakan biasanya kotor berdebu. Tapi dengan kondisi karpet yang kuyup seperti ini, alas kain pun pasti ikutan kuyup... lagi-lagi alhamdulillah teman se rombongan membawa tikar plastik. Jadilah saya ikutan nebeng di tikar yang sambung menyambung itu.
Malam itu, udara sejuk selepas hujan sangat membantu kami. Tidak kepanasan dan tidak dinyamukin. Malam semakin larut dan suasana semakin syahdu. Di beberapa sudut tenda terdengar suara mengaji dengan penerangan senter, juga jamaah yang sholat tahajud dengan sujud-sujud yang panjang.
Menjelang khutbah wukuf kami duduk bersaf-saf, merasakan kedekatan dengan sang Khaliq. Kedekatan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Merasa malu dan berkecil hati siapalah saya ini sehingga disaat seperti ini Allah yang Maha Agung membanggakan kami kepada para malaikatNya. Siapalah saya ini yang jika bukan karenaNya tidaklah mungkin berada disini. Shalat dzuhur dan ashar yang berjamaah yang dilaksanakan secara jamak terasa begitu istimewa. Isak tangis tertahan mulai terdengar disana sini.
Hawa panas siang hari tak lagi terasa ketika kami bersama mengumandangkan talbiyah dan zikir sepanjang siang sampai menjelang maghrib. Hanya airmata. Hanya permohonan ampun. Tubuh saya bergetar, mata saya terasa berat untuk dibuka. Sembab (Nantinya saya menyadari sembabnya mata ketika melihat foto-foto dokumentasi. Sore hari, ketika prosesi wukuf berakhir, acara foto-foto mah tetep lah ya... hehehe). Menjelang maghrib kami keluar tenda, berdoa menghantarkan sejumlah permohonan. Saya sempat blank disitu. Apa lagi yang harus saya pinta. Semua kenikmatan telah Allah berikan tanpa perhitungan. Tak kuasa mulut saya berucap kecuali permohonan ampun dan ucapan syukur. Saya blank, hanya ingin waktu terhenti, hanya ingin suasana ini tidak cepat berlalu. Sampai kemudian ketika saya kembali tersadar bahwa ini adalah saat-saat mustajabah terkabulnya doa, saya menambahkan segala doa kebaikan untuk keluarga saya, anak-anak dan orang tua.
Menjelang maghrib, pengumuman mulai terdengar agar kami berkemas bersiap memasuki bus. Perjalanan menuju Muzdalifah memakan waktu antara 2-3 jam karena padatnya lalu lintas. Padahal jarak Arafah-Muzdalifah hanya sekitar 9 km. Dari jendela bus saya melihat rombongan jamaah haji dari negara lain yang berjalan kaki. Ya, di situasi seperti ini berjalan kaki tentunya lebih cepat daripada berkendaraan yang sering kali terhenti mengantri. Ketika kami sampai Muzdalifah, tampak jamaah bergerombol sana sini mengumpulkan kerikil-kerikil kecil yang akan kami gunakan untuk melontar jumroh di Mina nanti. Dari negara manapun, perlengkapan kami sami sama : kantong kerikil dan senter hehehe...
Setelah jamak qashar maghrib dan isya' beralaskan tikar, beratapkan langit saya terdiam. Badan mulai lelah. Memandangi sekitar. Lautan manusia berkain putih, lelah, tak wangi. Dengan kepasrahan tingkat tinggi hanya kepada Sang Pemberi Kehidupan.
Lewat tengah malam, bus tumpangan maktab kami telah menunggu. Bergiliran. Pertanda kami bersiap bergerak ke Mina. Tidak menunggu fajar. Karena bisa dibayangkan jika semua jamaah bergerak ke Mina diwaktu yang sama pasti lalu lintas tak akan bergerak saking padatnya.
Marathon kami melanjutkan jumroh aqobah sesaat setelah meletakkan tas dan perbekalan di tenda. Saya sedikit demam. Badan melayang terasa ringan seolah tak menapak bumi. Gamang, mampukah saya berjalan kaki ke area jamarat yang kabarnya mencapai 2-3 km dari tenda kami. Jarak itu dikalikan dua untuk kembali ke tenda penginapan. Beriringan diantara lautan manusia yang semuanya juga pastilah dalam kondisi lelah. Bismillah.. Hanya berbekal doa memohon kekuatan "Laa khaula wa laa quwwata illa billah" dan "Khasbunallaahu wa ni'mal wakiil", makan beberapa biji kurma dan minum air zam-zam saya membulatkan tekad untuk melangkahkan kaki di waktu menjelang subuh itu. Tidak saya keluhkan dropnya stamina saya ke siapapun karena saya sadar betul kami semua sedang lelah. Suami yang menunggu di depan tenda saya (kami berada di tenda yang terpisah antara rombongan laki-laki dan perempuan) untuk bersama ke jamarat membuat semangat saya mulai terpompa. Setengah perjalanan, Alhamdulillah badan saya mulai segar kembali. Melewati jalanan dimana tenda-tenda di kiri kanan kami berdiri, tenda-tenda jamaah negara lain dengan lambaian bendera yang beraneka ragam, melewati terowongan Muaisim yang panjang, blower-blower yang besar agar sirkulasi udara dalam terowongan tidak pengap. Saya menikmatinya. Finally.. alhamdulillah jumroh aqabah akhirnya bisa saya jalani dengan lancar.
Selama di Mina, di siang dan malam hari saya sempatkan jalan-jalan diseputaran maktab, melihat pedagang kaki lima yang menggelar dagangan mulai dari batu akik, kerudung sampai souvenir hiasan meja. Warung-warung dadakan penjual buah dan popmie juga bermunculan. Hajatan tahunan haji ini dimanfaatkan betul oleh penduduk Mina untuk menjemput rizki. Jika di hari-hari biasa Mina adalah daerah yang sepi, maka di momen-momen seperti ini Mina menjadi ramai dan hidup. Lagi-lagi saya menikmati pengalaman ini. Saya abaikan pengalaman panjangnya antrean toilet yang membuat saya galau jika ingin minum karena tak mau terlalu sering berurusan dengan toilet. Saya abaikan catering yang menunya dibawah standar yang membuat selera makan saya turun di limit terendah. Saya abaikan gunungan sampah di pojok-pojok kawasan maktab yang membuat saya menahan nafas setiap kali melewatinya. Meski saya sempat membahasnya dengan suami. Membandingkan dengan maktab negara lain, tapi saya anggap itu bahan diskusi yang membuka wawasan kami. Hingga akhirnya habislah masa tinggal di Mina ketika kami harus bergerak kembali ke Mekkah karena rombongan saya memilih mengikuti nafar awal, artinya kami tinggal di Mina hanya sampai tanggal 12 Dzulhijjah.
Semua hal yang saya nikmati selama rangkaian perjalanan haji sejenak terhenti di momen ini... huhuhu... didalam bus, perjalanan kembali ke kota Mekkah, diantara parahnya kemacetan lalu lintas. Bus kami benar-benar terhenti tak bergerak. Dan saya mual. Perpaduan antara sopir bus yang rem-gas-rem-gas dan kondisi fisik yang kembali lelah membuat perut saya teraduk-aduk. Semerbak bau balsem mulai bermunculan dari beberapa arah tempat duduk. Makin membuat saya tersiksa. Ya sudahlah... saya tambahin saja bebauan itu dengan minyak kayu putih yang saya bawa... heheheh... sekalian deh...kali ini saya beneran tidak menikmati. Dan ketika Masjidil Haram telah tampak, saya dan suami memilih turun dari bus. Beberapa teman seusia (waktu itu tergolong usia muda) mengikuti. Di jalanan itu kami hafal betul arah mana yang harus dituju untuk sampai ke penginapan di Mekkah. Mungkin berjalan kaki akan lebih cepat sampai tujuan daripada duduk mual di bus yang entah kapan akan bergerak maju....
**bersambung**
(Cerita ini saya tulis ketika kembali terjadi tragedi di musim haji tahun 2015 ini. Hitungan sementara 750 jiwa syahid karena berdesakan menuju lokasi jamarat. Ini musibah ke dua setelah crane yang tumbang di pelataran Masjidil Haram. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Allahummaghfirlahum warhamhum wa'afihi wa'fuanhum.. Kematian yang indah..
Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah.. irji'ii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah. Fadkhuli fii ibadii wadkhulii jannatii -al Fajr 27-30)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar