Tepat setelah acara Meeting The Parents yang agendanya membagi report card, saya dan keluarga terbang ke Jakarta. Libur sekolah seminggu ini saya manfaatkan untuk menyelesaikan beberapa urusan di tanah air yang selama ini sudah saya jadwalkan. Juga untuk melepas rindu kuliner yang tidak bisa dibohongi, bahwa diantara negara-negara lain, kuliner Indonesia adalah juaranya.
Tidak seperti mudik-mudik biasanya, kali ini tidak ada rencana ke luar kota sama sekali, mungkin hanya menengok ibu saya yang sedang berada disuatu kota sebelah Jakarta yang sedang diamanahi menjaga cucu keponakan. Itu artinya one week full saya akan 'menikmati' kota tempat saya berKTP ini dengan 'senikmat-nikmat'nya ;)
Kenapa saya bertanda kutip? Karena jujur, Jakarta hanya bisa dinikmati dalam keterpaksaan hahaha...
Menit-menit pertama keluar dari bandara Soekarno Hatta saja, saya sudah disapa oleh sopir taksi ilegal. Semula saya kege-eran ketika ada bapak-bapak tersenyum dan menganggukkan kepala. Keramahan anak bangsa yang tidak ada tandingannya, batin saya. Ternyata setelah senyum saya balas, bapak itu menghampiri dan menawarkan taksi... O-ow...
Di menit yang bersamaan saya puyeng dengan asap rokok yang melayang-layang menjajah kebebebasan pemeluk aliran udara sehat. Bahkan tepat dibawah tiang-tiang besar berstiker gambar rokok dicoret, mereka dengan santai dan sok gagah menyemburkan asap kemana-mana seolah ada kebanggaan tersendiri bisa menghina dina stiker itu.
Oh... C'mon, kalian akan lebih gagah jika kalian merokok di tempat umum tanpa menghembuskan asapnya. Ambillah paket hemat dengan merokok sambil menelan sekalian asapnya...
Menit selanjutnya, saya sudah disambut dengan kemacetan yang fffiuuuhhh entahlah apalah. Dua jam kami habiskan waktu dari bandara ke Jakarta Timur, tempat tinggal saya. Dari ngobrol dan bercandaan ringan dengan anak-anak sampai ngobrol garing dan ngobrol bete. Diselingi juga pemandangan mobil yang saling serobot, tak bisa lurus jalan disatu lajur. Dan, mobil berstiker pers yang menyalahgunakan sirine polisi/ambulan untuk mengecoh kendaraan lain untuk meminta jalan. Sudahlah... Terlalu mainstream membahas macet Jakarta dan segala macam perilaku pengendaranya yang entah kapan akan insyaf dan beradab.
Dan hari ini adalah hari kedua saya disini, kembali ke topik kuliner, list makan malam hari ini adalah nasi goreng di abang-abang yang mangkal dekat sebuah pasar inpres, yang bagi kami rasanya seringkali membuat kami rindu jika sedang berada jauh dari tanah air. Saya parkir motor di dekat si abang. Dan sambil menunggu pesanan nasi goreng bungkus, saya melipir ke toko sekitar untuk mencari gunting karena dua anak saya membawa project liburan yang harus selesai dan dikumpulkan ketika kembali masuk sekolah.
Saya baru sadar ternyata susah sekali jalan dari toko ke toko. Pedestrian menghilang. Kios-kios tenda berdiri mengambil hak pejalan kaki. Otomatis pejalan kaki bergeser lebih ke tengah merambah aspal. Hasilnya... Ya diklaksonin motor lah... Kadang malah dapat bonus dipelototin. Lah terus aku kudu piye...
Let me introduce you, this is Jakarta :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar