Sabtu, 09 Desember 2017

Move to The Next Chapter


- - Saya menulis ini, waktu itu, sambil menunggu bungsu saya latihan piano di Yamaha Wangsa Walk, Kuala Lumpur.

Terlintas begitu saja, ketika seorang siswa, sambil menunggu giliran kelasnya mulai, dia memainkan piano di waiting room. Lagu-lagu slow beat.
Membuat hati saya biru.

Pintu kelas terbuka, saya hampiri miss Esther dan kemudian pamit menjabat tangannya, “I’m afraid this is Nisrina’s last class, because we will move back to Jakarta soon. Glad to see you. She is very like you”, ada suara serak disana.

Sedari pagi memang hati saya sedikit biru. 
Pagi tadi, saya menghadiri undangan di sekolah bungsu saya. Academic exhibition. Pameran project-project siswa yang dipajang untuk dilombakan. Tujuannya untuk memotivasi siswa agar siswa membuat project dengan baik dengan dukungan orang tua. Saya elus kepala kecil si bungsu ketika dia bergumam, “The next academic exhibition event, i can’t join anymore”
Bertemu sesama WNI parents, kami membahas rencana kepindahan beberapa teman akhir tahun ajaran ini. Pindah kembali ke tanah air. Termasuk keluarga saya. Seketika hati saya berkabut.

Meninggalkan segala kenyamanan di kota ini bukanlah sesuatu yang mudah. Bukan masalah packing atau angkat barang, karena semua sudah ada mover yang mengurus, alhamdulillah.

Tapi lebih ke masalah hati, ini yang terberat sesungguhnya. Komunitas WNI yang solid, forum majelis ilmu yang padat dan berisi. Seminar, parenting juga course. Kemudahan transportasi yang nyaman, yang membuat kita bisa memprediksi lama perjalanan, membuat saya tak segan menyusun agenda kegiatan harian untuk upgrading potensi diri, tanpa kuatir kegiatan utama sebagai seorang ibu keteteran. 

Dan... masalah hati yang terberat adalah menyaksikan ‘kekecewaan terpendam’ yang dirasakan hati mungil anak-anak kami. Ya, anak-anak yang terlanjur mempunyai ikatan dengan kota ini, mempunyai best friend dengan teman-teman di sekolah, merasa hommy dengan lingkungan tempat tinggal. Termasuk meninggalkan kelas piano yang disukai.
Juga ketika saya mengikuti keinginan dua anak saya untuk membeli kain putih dan spidol yang akan digunakan mengumpulkan tanda tangan teman-teman dan guru-guru mereka sebagai kenangan. Atau ketika saya berbelanja pernak-pernik souvenir kecil sebagai tanda perpisahan untuk teman-teman mereka. Mengabadikan dengan kamera momen demi momen mereka berpelukan dan saling mengucapkan kata perpisahan. Sungguh ini lebih mengharu biru daripada farewell saya sendiri dengan komunitas saya. Persahabatan mereka yang lintas bangsa sungguh tak mengenal syarat.

Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk mengakhiri sebuah keterikatan perasaan yang sudah terlanjur kami jatuhi warna cinta.

Bukan saya tak sedih, sayapun merasakan kekecewaan yang senada. Tapi peran sebagai orang tua harus kami mainkan secantik mungkin untuk menularkan aura semangat kepada anak-anak kami. Memberikan pengertian bahwa sebagai hamba Allah, kita hanyalah wayang yang siap diarahkan kemana oleh Sang Pengarah Kehidupan.

Meski ada semburat biru, kami nikmati counting down the days menuju kepulangan. Menyusuri beberapa lokasi favorit dimana kami sering melakukan aktifitas disana sembari say good bye (meski anak saya lebih suka menggunakan istilah ‘till we meet again).

Baiklah, sudah waktunya untuk melanjutkan ke chapter berikutnya. Mungkin Allah menganggap tugas kami di belahan bumi Kuala Lumpur telah usai, untuk selanjutnya kembali ke belahan bumi Allah yang lain -Jakarta. Kami percaya teramat sangat, bahwa segala rencana Allah pastilah yang terbaik bagi kami. Karena dimanapun kita berada, tugas kita adalah sebagai khalifah fil ardh, yang harus kita laksanakan as the best we can.

Sebagaimana dalam QS Al Baqarah : 30
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan manusia di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memujiMu dan menyucikan namaMu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’”

So, see you Jakarta. 
Saya hanya ingin menyapamu dengan doa 
“Ya Tuhanku , masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan aku ke tempat keluar yang benar. Dan berikanlah kepadaku dari sisiMu kekuasaan yang dapat menolongku” 

(QS-Al Isra : 80)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar