Dalam berinteraksi sehari-hari, sering kita mendengar seseorang yang melontarkan kalimat, "Sorry, saya lupa..."
Saya juga sering sih...
Kadang ngeselin kalau ada hal yang penting, kita terlanjur mengharap ke seseorang tapi orang tersebut lupa.
Iya, kan...
It means, untuk saya yang juga sering kelupaan, saya juga ngeselin.
Orang lain juga kesel sama saya... hehehe maafkan. Seringkali itu betulan, ga saya sengaja. Meski kadang (kadaaaaang banget) disengaja juga, sengaja melupakan.
Maafkan, please...
Maafkan, please...
Nah lupa yang disengaja ini sebetulnya hanyalah alibi. Misalnya karena enggan hadir disuatu pertemuan padahal sudah terlanjur menyanggupi untuk hadir karena faktor gak enak kalau menolak. Jadi diciptakanlah alasan lupa.
Anak-anak saya juga sering sekali menggunakan senjata "lupa" ini.
"Nak, tolongin jemur baju yang baru ibu cuci ya.."
Biasanya jawabannya adalah,
"Ok, bu, a minute please.. ini lagi tanggung." Tapi tak beranjak dari duduknya. Pura-pura mengerjakan sesuatu.
Selang beberapa waktu, baju masih anteng di dalam pengering mesin cuci,
"Nak, belum dijemur juga?"
Jawaban yang saya dapat adalah,
"Lupa, bu.."
See...?
Saya mau marah? Susah... Namanya juga lupa, apanya yang mau dibuat marah. Kesel saja akhirnya.
Lain soal dengan kejadian yang satu ini. Sepasang anak muda sedang berada dalam LRT. Yang satu tampak diam memandangi hand phone nya. Seorang lagi beberapa kali berusaha mengajak bicara, membuka percakapan. Karena tempat duduk saya berseberangan, saya bisa mendengar ucapan si teman. Salah satunya bertanya :
"How's the party last evening"
"That was great." Masih tanpa memalingkan wajah dari hand phone.
"Siapa saja yang datang?" Kejar si teman.
"Mmm, lupa."
Krik...krik...krik...
Hening...
Hahahaha.. Jawaban "lupa" kali ini digunakan untuk menutup pembicaraan.
Stop of conversation.
End of story.
Cukup sampai disini.
Leave me alone.
Lo gue end.
Gitu...
Tapi,
Meski lupa seringkali berkonotasi negatif, ada kalanya sifat lupa ini sangat diperlukan. Positif malah.
Allah memberi sifat lupa pada manusia untuk melepas traumatik pada satu kejadian. Traumatik level ringan adalah ketika kita mengalami kejadian buruk yang memalukan. Salah ucap atau salah berperilaku yang menyebabkan ditertawakan orang-orang di sekeliling kita.
Yang menyebabkan kita ingin seketika tenggelam saja ke dasar bumi saking malunya.
Dengan sifat lupa ini, kita berangsur akan kembali memijak bumi tengan tegak. Malunya masih ada, konyolnya kejadian masih ada. Tapi orang mulai melupakan kejadian itu. Kitapun sudah berangsur lupa.
Di Kuala Lumpur ini, jendela mobil saya pernah dikeprok maling di lampu merah di siang bolong. Sebuah backpack berpindah tangan seketika, dalam hitungan detik saja. Maling expert. Sampai sekedar berteriak atau pencet klakson saja saya kalah jauh, saking terperanjatnya.
Setelah kejadian itu, perlu waktu untuk menepis perasaan takut dan trauma. Padahal saya emak jalanan. Setiap hari pasti antar jemput anak sekolah yang pulang-pergi, pagi-sore hitungan kilometernya mencapai kurang lebih 60km. Kilometer ini seringkali bertambah karena kegiatan yang lumayan padat.
Iya, memang, saya (pura-pura) sibuk... hehe
Nah, Hari-hari setelah kejadian, saya menyetir mobil dengan mata selalu jelalatan spion kanan-kiri-depan. Kemudian tangan menjadi dingin setiap melihat pria berboncengan motor mendekat dan akan menyalip mobil saya. Trauma. Kuatir berlebihan karena si maling adalah dua pria pemotor.
Tapi disinilah kuasa Allah, kasih sayang Allah kepada hambaNya berlaku, sunnatullah sifat lupa yang melekat pada manusia membuat trauma saya berangsur menipis.
Bisa dibayangkan kalau manusia tidak memiliki sifat lupa. Trauma yang berkepanjangan pasti akan menyakitkan.
Tapi lupa ini tidak sepenuhnya menghapus. sesekali masih muncul walau sebersit.
Sekali lagi, ini kuasa Allah, bukan?
Sekali lagi, ini kuasa Allah, bukan?
In my humble opinion, ini bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Kenapa?
Yaaa, kalau manusia beneran lupa tak bersisa, kita tak akan mengambil pelajaran dari peristiwa memalukan. Tak akan mengambil ibrah dari kejadian traumatik.
Dengan sisa ingatan ini, kita akan menjaga perilaku agar tidak mengulang perilaku yang menyebabkan rasa malu. Mengulang kesalahan yang sama.
Dengan sisa ingatan ini, saya jadi berhati-hati tidak meletakkan tas di atas kursi ketika menyetir mobil.
Sesungguhnya, betapa besar kasih sayang Allah kepada kita. Sifat remeh temeh ini bisa begitu dahsyat dalam mendidik kita.
Fabiayyi aala-i robbikumaa tukadzdzibani...
(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? QS Ar Rahman-13)
Ah.. serius sekali tulisan kali ini..
Kuala Lumpur, 17 June 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar