Hari Jumat lalu tiba-tiba tanpa rencana saya ingin lari pagi di sebuah taman, dekat Condo tempat tinggal saya. Padahal biasanya saya treadmill di dalam gym fasilitas condominium. Olah raga outdoor biasanya hanya saya lakukan jika bersama anak-anak dan suami.
Taman ini, Taman Datuk Keramat namanya. Entah kenapa dinamakan Datuk Keramat. Yang saya tahu tempat ini, mayoritas penduduknya adalah orang melayu, keturunan Indonesia. Dari Padang, Bawean, Bugis dan Jawa. Mereka sudah lama tinggal disini, sudah dua atau tiga generasi. Pindah kewarganegaraan atau menikah dengan warga negara asli.
Pernah iseng saya tanya ke ibu penjual lontong sayur padang yang sudah puluhan tahun disini, katanya disini ada makam sesepuh yang dikeramatkan. Entahlah....
Selain itu, yang saya tahu sih, disini ada pasar tradisional. Salah satu pertimbangan ibu-ibu dalam mencari tempat tinggal adalah : “Dekat pasar ga?”.
Nah itu juga yang membuat saya memutuskan tinggal di Condo ini. Dekat pasar dan taman. Lengkap dengan playground, outdoor mini gym dan track lari.
Nah itu juga yang membuat saya memutuskan tinggal di Condo ini. Dekat pasar dan taman. Lengkap dengan playground, outdoor mini gym dan track lari.
By the way.. saya mau cerita apa sih tadi.. kok jadi bahas Datuk Keramat....
Oh ya...
Jadi, karena ini pagi hari dan hari kerja, taman ini tak seramai weekend di sore hari. Kalau week end, saya tak akan sempat explore mata kemana-mana karena sibuk mengawasi anak ditengah keramaian. Atau fokus jogging saja biar tidak menabrak orang.
Pagi itu saya melihat seorang ibu tua seumuran ibu saya. Menenteng tas. Semacam tas belanja. Tas yang sungguh biasa saja. Dia tidak berkostum olah raga, bukan pula baju santai sebagaimana layaknya orang ingin menikmati pagi secara outdoor. Bajunya baju kurung, tipe baju yang sering dipakai orang melayu kebanyakan. Gayanya bercelingukan membuat saya memelankan ritme lari saya, ada apakah? Sekelebat pikiran buruk melintas, mengingat banyaknya kasus kriminalitas belakangan ini.
Tapi astaghfirullah ... saya salah mengijinkan pikiran buruk tadi melintas di kepala. Ternyata ibu ini celingukan mencari teman-temannya. Dia berjalan ke satu titik dan mulai membuka tasnya. Dan, di dalam tas yang saya sebut 'tas biasa saja' tadi, dikeluarkannya sesuatu yang tidak biasa. Dia mengeluarkan segenggam demi segenggam makanan kering. Makanan kucing.
Ya, teman-temannya adalah kucing-kucing yang nampaknya sudah terbiasa makan dari telapak tangan tuanya.
Ya, teman-temannya adalah kucing-kucing yang nampaknya sudah terbiasa makan dari telapak tangan tuanya.
Ada yang sejuk di hati saya...
Allah SWT menurunkan rasa cinta dan kasih di hati makhlukNya. Perbedaan jenis tak menjadi masalah. Manusia kepada hewan, atau sebaliknya, hewan kepada manusia. Dan rasa cinta ini diwujudkannya dalam sedekah memberi makan.
Teringat guru ngaji saya pernah menyampaikan, ada malaikat yang tugasnya hanya untuk mendoakan manusia :
"Tidak satu hari pun dimana pada pagi hari seorang hamba ada padanya, kecuali dua malaikat turun kepadanya. Salah satu diantara keduanya berkata : "Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak." Dan yang lainnya berkata : "Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir"
(HR. Bukhari dan Muslim)
Didoakan malaikat, siapa yang tidak mau?
Malaikat adalah hamba Allah yang doanya tidak tertolak. Kakek saya dulu, menceritakan jika kita berdoa dan mengucapkan amin, jika ucapan amin kita bersamaan dengan ucapan aminnya malaikat, sungguh beruntung kita, karena doa kita akan dikabulkan. Cerita dengan bahasa versi kanak-kanak...
Ah, jadi ingat juga, dulu kakek saya setiap jalan pagi selalu membawa segepok permen di kantong bajunya. Jika bertemu anak kecil langsung disalami dan diselipkan barang satu-dua permen ke genggaman si bocah.
Kenal atau tidak, tak masalah bagi kakek. Melihat mata kecil yang berbinar bahagia sudah cukup membahagiakan kakek.
Hal yang sama juga dialami anak-anak saya ketika ikut berumroh. Setiap waktu sholat, ada saja bapak-bapak atau ibu-ibu (biasanya berwajah middle east) yang menyelipkan sekedar minuman kotak, roti atau permen ke anak-anak saya. Si bungsu karena paling imut, paling banyak dapat sedekah. Edukasi visual seperti itu, menjadi trigger bagi anak2 : “Bu, when i grow up and have some money, I’ll make some kids happy as how happy I’m now”.
Nyes dan sejuk melihatnya.
Kembali ke cerita Jumat pagi itu..
Betapa saya mendapatkan pelajaran secara live show. Agar kembali menerapkan kebiasaan kakek saya dulu, mencontoh bapak-ibu middle east di masjidil haram dan madinah.
Sedekah.
Bahkan jika sedang tak bawa harta atau benda. Senyum dan wajah ramah pun sudah termasuk sedekah. Tak susah bukan?
Kuala Lumpur, 6 Mei 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar