Baru saja saya menghadiri wisuda anak kedua saya yang tamat SMP. Suasana Ramadhan tidak menghalangi kemeriahan acara. Meski anak saya hanya sekolah kurang lebih selama sembilan bulan di sekolah ini, alias dia murid baru, karena kami baru pindah ke Indonesia dari negara tetangga, tapi dia ikut mencoba tune in.
Di Indonesia, Ini bukan wisuda pertama yang saya hadiri. Dari tiga orang anak, sebelumnya saya menghadiri dua kali wisuda TK (anak pertama dan kedua), satu kali wisuda SD (anak pertama) dan satu kali wisuda SMP (anak pertama). Ditambah beberapa kali acara wisuda bukan sebagai orang tua murid, tapi sebagai tamu undangan, sebagai pengurus sebuah sekolah swasta.
Entah kenapa, suasana wisuda di Indonesia khas sekali, warna yang mendominasi adalah warna haru dan kesedihan. Sepertinya nih, semua wisuda yang saya hadiri tidak lepas dari lagu hormat guru, seperti Hymne Guru.
Juga lagu perpisahan dengan teman semisal “Sampai Jumpa dan Ingatlah Hari Ini.
Atau lagi tema terima kasih atau ekspresi rasa cinta kepada orang tua, seperti Sound track Keluarga Cemara, Bunda, Lagu Cinta Untuk Mama, Titip Rindu buat Ayah, Yang Terbaik Bagimu. Semuanya berbalut kesedihan dan air mata. Sepertinya tissue adalah bekal wajib untuk para undangan acara seperti ini. Tau sendiri kan, yang namanya orang nangis itu menular. Nangis satu, nular ke sebelahnya, sebelahnya lagi.. sampai akhirnya gerakan bahu dan sedu sedan seragam berirama. Dan saya pernah mengalaminya, meskipun ga bombay-bombay amat.
Pengalaman berbeda saya rasakan ketika tinggal di negara sebelah. Sempat mengikuti wisuda jenjang Montessori (TK-anak bungsu), Primary (SD-anak kedua) dan EGCSE/0 Level (setara kelas 11-anak pertama). Suasananya bertolak belakang, berbeda seratus delapan puluh derajat. Ada rasa sedih sih ketika bersalaman dengan teman dan guru, tapi yang dominan adalah rasa gembira dan optimis menyongsong jenjang pendidikan selanjurnya.
Lihatlah pemilihan lagu mereka, wisudawan bersama diatas panggung menyanyikan Hall of Fame, The Best Day of My Life, Never Say Never, Count on Me. Semuanya berarransemen riang, bukan...
Saya ga tau mengapa atmosfer yang mewarnai begitu berbeda. Apakah karena kultur budaya? Entahlah. Untuk saya yang kurang menyukai air mata, menghadiri acara perpisahan yang sendu sungguh dilema. Ga nangis, dibilang ga sensi. Tapi dipaksa nangis.. ya bisa sih, tapi sebatas semacam toleransi sama tetangga kursi saja. Di wisuda anak kedua saya barusan, saya beneran nangis ketika di wide screen ditayangkan in memoriam salah satu teman anak saya yang meninggal dunia beberapa minggu sebelum UN karena sakit, kemudian orang tuanya speech di panggung tentang kerinduannya dan belum move on nya dari kehilangan sang buah hati. Semoga Allah melapangkan kuburnya dan menerima amal ibadahnya...
Ah sudahlah, lepas dari apapun suasananya. Ini merupakan pengalaman tersendiri. Menutup lembaran jenjang pendidikan anak dan bersiap membuka jenjang selanjutnya adalah hal yang indah buat saya. Tantangan baru mendampingi anak melalui fase hidupnya. Tak selalu mudah, tak selalu menyenangkan. Tapi jika sabar, menjanjikan berlapis pahala.
Dan kemudian terngiang di telinga saya sepenggal lirik lagu : “... terima kasih abah, terima kasih emak...”
Jakarta, 12 Juni 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar