Tadinya saya menggunakan kata 'mellow' pada judul diatas, tapi kayanya istilah itu sudah kalah femes dibanding kata 'baper'. Ya sudah, kita gunakan saja istilah baper ini.
Kenapa mendung dan hujan bagi sebagian orang identik dengan baper? Saya sudah searching tentang hal ini, tetapi sependek pencarian saya, belum ketemu juga apa relevansinya. Juga secara ilmiah, apakah ada sinyal-sinyal khusus yang dikirimkan oleh tetes-tetes air hujan, juga bebunyiannya melalui perantara audio visual yang membuat syaraf otak memerintahkan kita untuk membuka memori-memori masa lalu untuk hadir kembali dan memaksa kita hanyut terbawa perasaan. Makin deras hujannya, makin dahsyat bapernya #aish...😀
Bulan-bulan ini sedang musim hujan di Kuala Lumpur. Saya sedang di dalam mobil, di school parking area, dalam rangka menjemput anak sekolah. Sengaja saya datang lebih awal untuk mengindari antrean masuk yang panjang di gerbang sekolah di jam pulang belajar. Hari mulai hujan. Ringan saja.
Dimulai dari memikirkan mau masak apa untuk buka puasa nanti, berganti memikirkan sulitnya cari lauk pauk siap saji yang memenuhi selera Indonesia di Kuala Lumpur ini, berganti lagi membayangkan pengen beli apa jika masih tinggal di Jakarta.
Bak slide film, berganti lagi memikirkan kangennya saya pada makanan Surabaya, kota dimana saya berasal, menghabiskan masa kecil dan masa remaja. Nah, jika sudah begini, pasti peluang terbesar adalah terbawa perasaan mengingat yang lalu-lalu.
Hujan makin deras, dan saya tersentak. Meruginya saya. Waktu yang terbuang percuma harusnya bisa dimanfaatkan untuk membaca buku yang saya selipkan sebagai bekal teman menunggu.
Atau harusnya bisa digunakan untuk membaca artikel-artikel pendek meskipun hanya melalui media online.
Juga saya lirik Mushaf di jok belakang yang harusnya bisa saya tilawahkan entah berapa lembar. Tidak kalah penting disaat hujan deras begini, adalah waktu yang mustajabah untuk berdoa : "Allahumma shoyyiban naafi'an (Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat)"
Dan ketika terdengar suara petir :
"Subhanalladzi yusabbikhur ro'du bi hamdihi wal malaaikatu min khiifatih (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memujiNya karena rasa takut kepadaNya)"
Atau doa-doa pribadi yang ingin kita panjatkan kepadaNya..
Bel sekolah berbunyi, bergegas saya meraih payung untuk menjemput anak saya di gate kantin sekolah, meeting point orang tua dan murid, berlari kecil sambil menggumamkan doa yang terlambat saya lantunkan.
Ah... Meruginya saya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar