Jumat, 09 Februari 2018

Tetangga Zaman Old, Tetangga Zaman Now

Masa kecil saya adalah masa dimana kehidupan bertetangga masih begitu damai, tanpa persaingan -dalam hal materi- dan penuh keakraban. Juga saling membantu.
Saling membantu dimana dulu ibu saya seringkali berkata : 
“Jaga tingkah laku di luar rumah, meskipun ibu gak nguntitin kamu, tapi mata ibu banyak, ada dimana-mana”
Terbersit arti bahwa semua tetangga dan teman-teman ibu siap melaporkan kalo saya bertingkah macam-macam. Terbukti, saya benar-benar bertingkah manis di luar rumah, ga berani coba-coba melanggar norma masyarakat dan aturan agama.

Contoh lain adalah ketika pulang sekolah dan mendapati rumah sedang kosong, saya terkunci di luar dan tak bisa masuk ke dalam, tetangga saya dengan senang hati mengajak saya masuk rumahnya sampai orang rumah datang, membawa kunci dan membuka pintu.

Pernah suatu ketika, saya bermain sepeda dan hilang keseimbangan sehingga jatuh nyusruk masuk ke got yang airnya hitam dan bau. Kebetulan lokasinya di dekat rumah teman taklim ibu, di ujung kampung sebelah. Seketika saya dimandikan, digantikan baju anaknya, sepeda saya dicuci bersih. Dan saya pulang dengan tanpa membawa bekasan air got. Kinclong lagi.

Itu adalah masa-masa indah masa kecil saya, dimana tetangga begitu berarti. Sebagaimana ungkapan ‘Tetangga adalah keluarga terdekat’.

Sebagian ulama mengkategorikan tetangga adalah sekumpulan orang yang tinggal sekampung. Sebagian ulama yang lain berpendapat tetangga adalah 40 rumah sekitar kita dari segala penjuru depan, belakang, kanan dan kiri.
Sayangnya, dewasa ini arti tetangga mulai bergeser. Sebatas orang-orang yang tinggal di sekitar rumah kita. Radiusnya pun mulai mengecil. Beberapa kali saya berkunjung ke rumah teman atau kerabat, ketika kesulitan mencari alamat, bertanya ke lingkungan setempat dan beberapa kali nihil mendapat jawaban. Gak semua lingkungan seperti itu sih, tapi beneran deh, mulai banyak yang seperti itu.
Di depan rumah saya ada area yang sering dipakai para tamu dan tetangga untuk memarkir mobilnya. Seringkali ini menyusahkan saya untuk mengeluarkan atau memasukkan mobil ke garasi saya. Tapi biasanya, ya sudahlah, meskipun sedikit berpeluh, toh mobil saya bisa masuk. Sampai ada kejadian bak sampah saya retak ditabrak entah mobil siapa, karena tak ada yang muncul mengaku meminta maaf. Tak cuma sekali, tapi 2-3 kali, karena retakan berangsur berubah jadi pecah di dua sisi. Tak cukup sampai disitu, suatu hari bak sampah tadi, dibobok tetangga tanpa ijin karena salah satu ban mobilnya terperangkap di saluran air di depan bak sampah tersebut. Pedih gak sih...
Saya tipe orang yang ga suka ribut adu mulut, mungkin itu sebabnya mereka asik-asik aja bersikap begitu. Hit and run.
Seperti sebelumnya ada tetangga yang buang puing di depan rumah saya (dengan dalih wilayah sekitar akan ditinggikan agar tidak digenangi air). Jalan yang mulus jadi berantakan dan saya harus panggil tukang untuk melapis kembali dengan semen. Atau tetangga depan rumah yang hobi buang bungkus kopi, battery bekas dan cutton bud dari balik temboknya.. ah, sebalnya. Paling diam-diam saya doakan mereka untuk mendapat hidayah, meski beberapa kali saya keceplosan mendoakan yang jelek-jelek (manusiawi gak sih? Hehehe).
Tapi sore ini, hati saya bagai disiram air sejuk.
Saya membuka pintu pagar dan mengeluarkan motor dari garasi. Karena sedang terburu-buru, motor menyenggol pintu garasi yang sudah terbuka. Tiba-tiba ada kepala kecil melongok ke dalam garasi dan cepat sekali tangan mungilnya berusaha mendorong membuka pintu garasi lebih lebar. Saya terbengong.. gadis mungil usia 4-5 tahun itu tersenyum sambil tampak kesulitan mendorong pagar saya yang berat untuk ukuran tenaga mungilnya. Segera saya menangkap tangannya dan memberikan senyum, “Gapapa Nak, Tante bisa. Terima kasih ya... “ Dia ikut tersenyum dan berlari menjauh.
Ya Allah, cerita tentang gadis kecil ini seketika jadi menu obrolan utama saya dan anak-anak saya sore ini. Untuk mengingatkan saya sendiri dan anak-anak, bahwa ditengah lunturnya kepedulian sosial dewasa ini, agar tetap peka dan tenggang rasa terhadap sesama, khususnya tetangga.
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbuat baik kepada tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya memuliakan tamunya” (Hadist arbain ke 15 - HR Bukhari dan Muslim)
Jakarta, 9 Februari 2018




Tidak ada komentar:

Posting Komentar