Selasa, 22 November 2016

Balada Perpanjangan Paspor

     Sore tadi suami saya bilang akan renew paspor karena halaman kosong di paspor tinggal empat lembar lagi. Seketika ingatan saya terlempar ke belakang, enam bulan yang lalu....
            ****************

Sudah waktunya anak-anak saya memperpanjang paspor. Enam bulan lagi paspor mereka expired. Seperti pada saat paspor saya expired dua tahun lalu, kembali proses renewal ini saya lakukan di KBRI Kuala Lumpur. Gedung yang sama, step-step yang kurang lebih sama.

Bedanya, kalau waktu itu proses renewal hanya berlangsung 2-3 jam mulai dari isi form, pengambilan foto dan ambil hasil, kali ini harus 4 HARI dan perlu dua kali kehadiran.

Kehadiran pertama, kami -saya dan suami- berbagi tugas. Jam 7 pagi suami sudah berangkat untuk mengantri ambil nomor. Rencananya setelah dapat nomor antrian, suami akan ngantor dan saya akan meneruskan proses ini. Loket belum buka tapi antrian sudah mengular panjang diluar gedung. Setelah dua jam menunggu, akhirnya loket dibuka. Karena status anak-anak adalah student maka diperoleh priority number, 18,19 dan 20. Priority number ini adalah nomor yang dikhususkan atau dibedakan dari para tenaga kerja, KONON.

Kenapa saya bilang konon, karena kenyataannya setelah berkas ditumpuk dan diproses, berkas dicampur aduk bak gado-gado didalam sana. Dengan alasan sistem biometrik maka antrian jadi tak menentu dan tidak bisa diprediksi akan berapa lama nomor saya dipanggil.

Sebelumnya, dua tahun lalu pada saat perpanjangan paspor saya, nomor panggilan akan tertera di monitor kecil di atas masing-masing loket. Ada sekitar 25 loket berjejer seingat saya.
Dengan adanya monitor itu saya akan tahu berapa nomor lagi giliran saya. Kalau satu nomor membutuhkan waktu pelayanan 10-15 menit, tinggal dikalikan berapa lama saya akan mengantre. Yang artinya saya bisa memanfaatkan waktu tunggu untuk hal-hal yang lain. Mungkin pulang, atau nongkrong di kantin sambil memantau monitor (karena di kantin juga ada monitor serupa), atau sholat atau pipis.

Tapi entah kenapa kali ini monitor tidak difungsikan sebagaimana biasanya. Ibu-ibu penjaga kantin mengatakan memang beberapa bulan belakangan tanpa monitor-monitoran. Nomor antrian otomatis tak berfungsi karena petugas loket akan memanggil nama pemohon.
Nah.. Sayapun bingung, jadi buat apa ambil nomor antrian di front desk?

Jam demi jam berlalu, sudah pukul 11. Tadi, saya dan anak-anak belum sempat sarapan pagi. Tapi sekarang mau ninggalin antrian untuk pergi ke kantin jadi ragu, kuatir saat kami pergi, nama anak-anak saya dipanggil.. Saya pandangi kembali monitor kecil diatas loket, ya Allah, jaman sudah canggih, monitorpun tersedia, terus kenapa antrian ini balik lagi ke sistem jaman batu?
Karena kelaparan, anak sulung berangkat ke kantin untuk membeli makanan apapun yang bisa dibungkus agar bisa kami cemil di ruang tunggu, sambil tak lupa saya wanti-wanti belinya jangan terlalu lama.

Pukul 13 loket break selama satu jam.
Kami manfaatkan untuk sholat dan urusan toilet. 

Ketika loket kembali dibuka, pemohon mulai gelisah. Mereka berkerumun di setiap loket. Jenuh karena ketidak pastian kapan nama-nama mereka akan dipanggil. Iseng, saya pun mendekat ke loket dan tanya ke petugas posisi nomor antrian berapakah sekarang. 
"Tunggu saja sampai namanya dipanggil, bu" jawab petugas dengan entengnya.. Oh My, apa kabar priority number buat student tadi ya??

Akhirnya pukul 14.30 nama anak-anak saya dipanggil di sebuah loket, isi form, kemudian geser ke loket sebelahnya untuk difoto, bayar dan paspor baru bisa diambil tiga hari kemudian. Hari yang melelahkan...

Oh ya, pada saat antri, saya sempat ngobrol dengan seorang ibu pekerja kilang (red: pabrik) yang tinggal Port Dickson. Port Dickson berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Kuala Lumpur (KBRI). Ibu ini bercerita perlu biaya transportasi RM 140 jika naik taksi (RM 1 kurang lebih Rp 3200). Bisa lebih murah sih jika naik bus, tapi lama dan berganti beberapa bus dan dipastikan akan kesiangan sampai KBRI. Berangkatnya harus sebelum subuh jika tak ingin kehabisan nomor antrian. Kesiangan sedikit saja akibatnya tak kebagian nomor, artinya melayang sia-sia biaya transportasi. Nantinya, biaya serupa akan dikeluarkan pada saat pengambilan paspor.. Luruh hati saya mendengarnya, sambil membayangkan penghasilan dia sebagai pekerja kilang..

Tiga hari berlalu, ini adalah kehadiran kedua saya ke KBRI untuk ambil paspor. Sendiri saja, tanpa anak-anak. Tertulis di slip pengambilan paspor jam 14-16 sore. Slip saya tumpuk sesuai arahan petugas. By the way, saya baru ngeh ternyata di kwitansi pembayaran yang saya terima tertera biaya dalam satuan mata uang rupiah, bukan ringgit. Padahal kami membayar dengan ringgit. Ini akan mempersulit proses clam/reimbursement dari kantor suami. Saya sempat menanyakan ini ke salah satu loket. Dan dijawab bisa minta revisi/receipt baru di loket pengambilan paspor. Diam-diam saya berdoa semoga jawaban petugas sesuai kenyataan.

Tiga jam berlalu, barulah nama anak-anak saya dipanggil. Dan.. Terjadilah yang saya kuatirkan..
Ketika saya minta receipt baru petugas menjawab saya bisa minta di loket pembayaran semula, artinya loket pada saat pengambilan foto. Pergilah saya kesana. Saling tunjuk antar loket terjadi. Saya berhitung lima kali saya di ping pong antar loket..

Apalah saya ini, hanya manusia dengan kesabaran yang terbatas. Saya complain. Sampai kemudian seorang petugas mencoba mencari berkas slip pengambilan paspor saya. Sudah tenggelam jauh tertumpuk dibawah berkas pemohon-pemohon yang lain. Ketika saya mencoba menawarkan bantuan untuk mencari, petugas menjawab,
"Kalau mau membantu harusnya ibu bilang sejak tadi kalau ibu perlu kwitansi".
What...???
Lha saya sudah di ping pong lima kali bukankah itu berarti sudah bilang DARI TADI? Ok, mungkin petugasnya lelah. 
Saya hanya menjawab agar file di kwitansi di komputer -yang salah ketik- diperbaiki. Karena saya yakin sebelumnya pasti sudah ada yang complain tentang salah ketik ringgit menjadi rupiah ini.
Petugas menyarankan agar saya menulis keluhan dan memasukkan ke dalam  kotak saran. Saya meringis, tak yakin kotak saran akan dibaca. 
Akhirnya, dari tiga nama slip dan berkas anak-anak saya, hanya dua nama yang ketemu. Sambil meminta maaf petugas menawarkan agar saya meninggalkan nomor telpon sambil berjanji jika berkas dan slip ketemu, saya akan dihubungi.

Ah sudahlah.. Kali ini giliran saya yang sudah lelah. Sudah hampir maghrib. Saya hanya ingin pulang.

Dan berharap semoga kedepannya sistem dan pelayanan akan membaik..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar