Malaysia.
Di negara ini jumlah WNI sangat besar. Yang pernah saya dengar, sekitar tiga juta orang. Tersebar di beberapa sektor yaitu TKI yang terbagi menjadi beberapa jenis pekerjaan antara lain pekerja domestik (rumah tangga, hotel dan apartemen), kilang (perkebunan kelapa sawit atau pabrik).
Ada juga kalangan mahasiswa, dosen, ekspatriat atau tenaga ahli.
Salah satu perusahaan yang banyak menyerap ekspatriat Indonesia adalah Petronas, perusahaan minyak pelat merah milik pemerintah. Banyak sekali WNI disini, dengan sebaran level jabatan yang bervariasi.
Selain di Petronas, masih ada beberapa perusahaan minyak atau kontraktor minyak yang juga mempekerjakan ekspatriat dari Indonesia.
Saking banyaknya, di lingkungan saya berkegiatan, persentase terbanyak ya ibu-ibu para istri karyawan minyak ini. Banyak diantaranya sudah tinggal belasan tahun di negara ini. Bahkan sudah memiliki properti.
Sampai kemudian harga minyak dunia mulai mengalami kemerosotan. Perlahan turun poin demi poin. Beberapa kebijakan dari perusahaan mulai diberlakukan. Mulai dari pemotongan gaji, tunjangan yang ditinjau ulang, sampai pemotongan jam kerja. Puncaknya di awal tahun 2015 lalu, mulai terjadi pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan. Saya menjadi saksi mata dampak merosotnya harga minyak ini. Gelombang PHK terjadi beberapa tahap, semua orang was-was apakah akan mendapat 'surat cinta' dari perusahaan. Dampak domino mulai terjadi, tidak hanya karyawan minyak, dosen level profesor pun mulai ditinjau ulang kontrak kerjanya oleh pihak universitas karena subsidi pemerintah untuk penelitian di perguruan tinggi dipangkas. Satu demi satu teman-teman saya mulai kembali ke tanah air.
Di Malaysia (baca : Kuala Lumpur, karena saya tinggal disini) bagi yang aktif banyak sekali aktifitas yang bisa diikuti. Sejak hari Senin sampai Jumat selalu ada kajian, kelas, pelatihan dan kegiatan lainnya. Kegiatan yang padat menyebabkan pertemuan yang intens diantara kami, yang tentunya telah menumbuhkan ikatan pertemanan. Dengan maraknya PHK, kabar kepindahan teman adalah kabar yang paling tidak kami harapkan. Perpisahan biru yang tidak kami inginkan. Memindahkan sekolah anak termasuk salah satu pemicu stres tersendiri. Birokrasi di Indonesia yang terkenal njelimet tentu saja bikin keribetan tersendiri bagi teman-teman yang akan kembali ke tanah air. Sampai-sampai kami membuat sesi pertemuan khusus untuk membahas prosedur pindah sekolah ke Indonesia, dengan mendatangkan pembicara pakar pendidikan.
Tinggal di perantauan seperti ini memang hal yang lumrah teman datang dan pergi silih berganti. Tapi selama ini kalaupun ada kepergian, perpisahan, itu karena kepindahan tugas. Entah kembali ke tanah air, atau pindah ke negara yang lain.
Dan tentunya kepulangan karena pemutusan kontrak kerja bukanlah perpisahan yang diharapkan.
Juga ketika saya berempati dengan kesedihan anak bungsu saya ketika pulang sekolah bercerita dengan ekspresi sedih bahwa best friendnya harus kembali ke negaranya karena hal yang sama. Meninggalkan souvenir seuntai kalung dengan liontin hati yang terbelah. Sebelah dibawa sang teman, sebelah lagi ditinggalkan untuk bungsu saya. Bungsu berusia sembilan tahun ini berucap bahwa dia berharap suatu saat kelak akan bertemu lagi dengan sang teman. Kecil kemungkinan memang, mengingat sang teman kembali ke negara belahan benua eropa sana. Tapi bisikan penuh harap bocah yang belum punya dosa ini, mudah tentunya bagi Allah untuk meluluskannya, suatu saat nanti...
Kini, satu setengah tahun berlalu, harga minyak dunia belum menunjukkan geliat yang menggembirakan. Seminggu yang lalu masih ada saja teman yang pindah untuk pulang ke tanah air. Kabarnya bulan depan beberapa teman juga sudah mengagendakan acara perpisahan dengan tema yang sama. Masih dengan kesedihan yang sama.
Akhirnya, beberapa kali saya membaca ulang tulisan ini, saya belum bisa menemukan paragraf penutup, seperti hati saya yang enggan menutup dari beragam kisah perpisahan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar