Patah hati adalah perasaan hati yang sakit, sedih, dendam, rindu, benci yang bercampur aduk. Porak poranda. Dan biasanya, jika orang menyebut patah hati, nyambungnya pasti karena putus cinta sepasang kekasih.
Sok tahu.. ya memang saya tahu.. kan saya pernah muda juga :)
Padahal patah hati tak melulu berurusan cinta dengan kekasih. Ya, memang.. pada saat masih muda, saya akan mendefinisikan demikian, tapi setelah menjadi emak-emak, saya mengartikannya dengan sudut pandang yang berbeda. Memang masih ada urusannya dengan cinta sih, tapi sekarang cintanya beralih ke keluarga, terutama anak.
Versi emak, patah hati terhebat saya adalah ketika saya harus marah kepada anak. Marah karena perbuatan yang mengecewakan atau diluar koridor agama.
Suatu ketika saya mengalami kekecewaan bertubi-tubi kepada salah seorang anak. Hasil ujiannya dibawah target yang dibuat sendiri. Segores kecewa terbetik dihati. Karena saya tahu anak ini punya potensi. Hanya saja belajarnya kurang serius. Bukan bermaksud denial, tapi kenyataannya di beberapa kesempatan jika dia serius dia bisa memperoleh nilai A*, pada saat SD juga seringkali menduduki peringkat big three. Dalam hal ini, saya masih bisa bertahan untuk tidak marah mengumbar kata. Tak berselang lama saya kecewa lagi dengan hal-hal lain seperti grafik ibadah yang menurun drastis juga akhlak yang mulai terkontaminasi lingkungan. Disini kemarahan saya meluap. Tahu sendiri kan emak-emak jika marah pasti akan merembet kemana-mana. Dan setelahnya saya akan merasa patah hati yang teramat dalam. Kecewa kenapa harus marah, berduka karena merasa gagal sebagai orang tua, menyesal mengapa saya harus menyakiti hatinya.
Padahal jika dipikir-pikir marah mengumbar kata ke anak itu sama sekali tidak efektif. Dalam keadaan dimarahi bisa dipastikan anak akan sedih, tegang, khawatir. Dalam keadaan demikian gelombang otak ada pada kondisi beta dan hanya mampu menyerap 20% dari segala informasi atau suara yang didengar. Sia-sia bukan kita ngomong panjang kali lebar?
Atau pernah kejadian di jam sekolah tiba-tiba anak saya yang lain, texting saya, mengirim message (padahal selama ini dia hanya texting pada saat hometime, karena peraturan menggunakan hp di jam sekolah dilarang). Isinya dia diserang temannya dengan kekerasan.
Kekerasan? Seketika saya yang sedang berada disuatu ruangan untuk suatu acara, beranjak keluar untuk menelpon anak saya. Tidak ada respon. Telpon dimatikan rupanya. Message bertubi-tubi juga tidak dibaca.
Saya patah hati.. lutut lemas dan pikiran kosong, membayangkan kekerasan seperti apa yang dialaminya.
Beruntung saya berhasil menghubungi salah satu gurunya dan mengirimkan screenshoot texting anak saya.
Masalah menjadi jelas, karena sesungguhnya teman anak saya hanya bercanda yang kelewatan. Anak saya merasa terganggu dan berniat menggertak akan melaporkan ke saya. Tapi ternyata jarinya tanpa sengaja menyentuh tombol send, sehingga terkirimlah message itu ke saya.
Nah, ketika merasakan lutut lemas tadi, saya merasakan hati yang patah membayangkan sebuah peristiwa kekerasan yang akan membekas di psikologisnya. Alhamdulillah, keadaannya demikian, dan semoga tidak akan pernah terjadi.
Ah.. patah hati di fase usia yang berbeda ternyata memiliki rasa dan sensasi yang berbeda pula...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar