Segala kejadian yang tidak menyenangkan, kadang akan berbuah luka dihati. Disakiti masa lalu atau kemalangan yang menimpa akan membuat goresan luka yang kadang berbuntut trauma.
Ketika gigi -depan atas- anak kedua saya putus karena temannya bercanda kelewatan, hati saya langsung tercabik karena itu bukan lagi gigi susu, melainkan gigi dewasa yang tidak bisa tumbuh/digantikan lagi kecuali melalui sambungan gigi palsu, hati saya perih.
Hati yang tercabik membayangnyan treatment yang berkesinambungan per-enam bulan selama empat tahun karena ada syaraf gigi yang harus disembuhkan dahulu sebelum pemasangan gigi aksesoris.
Hati yang tercabik setiap menghiburnya yang mulai bosan saat harus mengunjungi dokter gigi.
Hati yang tercabik karena beberapa profesi di masa depannya, yang mengharuskan dia bergigi lengkap akan terhambat.
Alhamdulillah anak saya adalah anak yang riang sehingga keriangannya membantu mengurangi cabikan hati saya.
Dan seiring waktu berjalan, meski belum sepenuhnya selesai urusan gigi itu, hati saya mulai tertata, meski kadang2 masih terasa nyesss kalau ingat kejadian tersebut.
Ketika rumah seorang kerabat dibobol maling, saya menyaksikan rasa traumanya yang melebihi rasa sedih kehilangan beberapa barang berharga. Hanya keyakinan dan rasa memiliki Allah yang Maha Segalanya sehingga dia legowo mengikhlaskan kejadian itu. Tapi rasa trauma tak semudah itu dilegowokan..
Ketika kita merasa tempat yang paling aman, tempat yang nyaman setelah penat beraktifitas diluar rumah sepanjang hari
sudah dijamah orang yang sangat tidak diharapkan, tentu membekaskan ketakutan dan trauma tersendiri..
Inilah yang disebut sebagai kerugian immateriil Sangat panjang dan berat untuk menyembuhkannya, pun tidak seratus persen sembuh.
Demikian juga dengan yang dialami oleh seorang teman tentang penjambretan di dalam mobil yang sedang dikendarainya. Tak usahlah bicara tentang harta yang hilang, karena jika Allah berkehendak, sungguh mudah bagiNya untuk mengganti dengan yang lebih.
Tetapi rasa trauma yang dirasakan teman inilah yang tak semudah itu untuk dihapuskan. Setiap kali melewati tempat kejadian perkara, ada rasa lemas lunglai teringat lagi kejadian itu. Setiap kali ada pengendara motor yang berboncengan tampak melalui kaca spion, tangannya menjadi dingin, karena pelaku yang menjambretnya berboncengan motor. Belum lagi ada rentetan panjang birokrasi mengurus segala dokumen semisal KTP dan SIM yang harus diperoleh kembali.
Dalam versi yang sedikit ringan, kadang-kadang dalam pergaulan kita mengalami awkward moment gara-gara salah ucap kepada lawan bicara yang berujung rasa malu atau bahkan sakit hati. Sampai-sampai kita enggan bertemu kembali satu sama lain.
Alhamdulillah, sunnatullah, Allah memberi sifat lupa pada diri manusia. Sehingga perlahan, seiring berjalannya waktu, segala rasa malu, sakit hati atau kenangan pahit akan terlupakan. Mungkin tidak benar-benar zero, kecuali kita amnesia yaaa... Tapi setidaknya nyeseknya berkurang. Semakin kita ikhlas menerima setiap kepahitan, semakin cepat juga proses healing. Karena time will heal the wounds.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar