Saya adalah penggemar acara Stand up comedy. Bagi saya komika (sebutan bagi pelakon stand up comedy, red) adalah orang-orang cerdas dan pemberani. Menurut saya, materi yang disajikan secara monolog tentu merupakan pertaruhan nyali tersendiri.
Lucukah? Atau garingkah?
Berbeda dengan comedy secara grup, jika garing dan tidak berhasil membuat penonton tertawa, rasa malu akan ditanggung bersama. Tapi jika perseorangan dan monolog, grogi ditanggung sendiri, malu pun ditanggung sendiri (tapi sisi baiknya, honor akan dinikmati sendiri hehehe).
Hari itu saya menonton sebuah acara grand final kompetisi stand up comedy yang diselenggarakan sebuah televisi swasta. Saya tersenyum sendiri dan diam-diam mengangguk setuju dengan materi salah satu komika.
Si komika berkata bahwa selama berada di karantina ketika mengikuti kompetisi tak bosan dia berdoa agar masuk final.
Allah mengabulkan.
Dia masuk final.
Dia masuk final.
Tapi bukan sebagai finalis, melainkan sebagai pengisi acara di grand final tersebut, berstand-up untuk memeriahkan acara saja. Semacam bintang tamu.
Nah, kan...
Itu sebabnya, sebaiknya berdoa itu spesifik, disebutkan secara jelas apa keinginan kita.
Itu sebabnya, sebaiknya berdoa itu spesifik, disebutkan secara jelas apa keinginan kita.
Saya tersenyum karena saya sering mengalaminya. Kejadian terakhir adalah ketika terbentur pada salah satu kepentingan sekolah anak yang membuat saya berucap kepada suami,
"Kalau memang kita harus LDR-an juga gapapa lah".
(Dalam artian saya siap jika bersama anak-anak harus tinggal di Jakarta, sementara suami tetap di Kuala Lumpur). Tapi keterangan dalam kurung ini tidak saya ucapkan, hanya tersimpan dalam hati.
Bukan doa memang. Tapi bukankah ucapan adalah doa? Oleh sebab itulah kita dianjurkan untuk berucap yang baik-baik saja, kan?
Allah mengabulkan.
Selang tiga bulan dari ucapan saya tersebut, suami ternyata harus menyelesaikan sebuah project di Jakarta. Sementara anak-anak sudah terlanjur memulai tahun ajaran baru di Kuala Lumpur dan too late kalau harus mencari dan mengurus pindah sekolah ke Jakarta. Mengingat ribetnya birokrasi pindah sekolah di tanah air.
Jadilah selama beberapa bulan kami LDR-an, dalam versi yang berbeda.. :)
Versi terbalik dari ucapan saya...
Lagi-lagi, itu sebabnya, berdoa itu sebaiknya harus spesifik...
Lain lagi dengan kejadian yang dialami seorang teman, sebut saja si A. Seringkali A berharap dan berdoa untuk bisa tinggal bersama ibunya. Menemani Ibunya yang sudah sepuh dan tinggal sendirian di kampung.
Sayang sekali, karena doa yang kurang spesifik, Allahpun mengabulkan dengan versi yang terbalik.
A memang akhirnya tinggal bersama ibunya, menemani ibunya. Tapi bukan mengajak si ibu tinggal bersama A, melainkan A yang pindah kembali menumpang ke rumah si ibu, karena A baru saja terkena musibah kehilangan pekerjaan dan memutuskan pulang kampung.
Kemarin pagi, dengan riang gembira anak saya pergi memancing bersama ayahnya. Akhirnya terkabul juga keinginannya pergi memancing setelah beberapa week-end selalu tertunda cuaca, entah terlalu panas atau malah hujan (karena cuaca Kuala Lumpur beberapa minggu terakhir memang sedang tak menentu).
Apakah dia berhasil mendapatkan ikan sepulang memancing?
Tidak, hehehhe...
Karena doanya juga kurang spesifik. Dia hanya memohon cuaca bagus agar bisa memancing. Rasanya doanya perlu ditambah agar berhasil mendapat ikan :)
Memamg ada juga sih yang tidak setuju dengan pendapat saya ini,
"Allah kan Maha Tahu, tentu tanpa diuraikan secara detail Dia mengerti apa yang kita mau, apa yang ada di hati".
Totally agree...
Tapi akan lebih oke kalau kita menyebutkan secara detail apa keinginan kita. Bukan permintaan yang diucapkan secara rapel dan garis besarnya saja.
Bukankah doa adalah wujud dari pernyataan bahwa diri ini lemah, wujud dari kepasrahan diri yang tanpa campur tanganNya adalah sehelai bulu ringan yang mudah terhembus angin?
Beberapa kali saya merasakan ketika merunutkan doa secara detail, dengan kepasrahan yang mendalam, hati saya akan bergetar. Bervibrasi. Yang seperti ini biasanya saya akan merasa lebih plong sesudahnya, dibanding jika sedang terburu-buru dengan doa yang diucapkan ringan dan sambil lalu..
Karena dengan doa, segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka katakanlah sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka memenuhi perintahKu, dan beriman kepadaKu agar mereka mendapat petunjuk".
(Al-Baqarah : 186)
Kuala Lumpur,
Sore hari,
Segelas teh peppermint,
Dan mendung yang mulai menggayut...
Kuala Lumpur,
Sore hari,
Segelas teh peppermint,
Dan mendung yang mulai menggayut...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar