Selasa, 12 Februari 2019

Maaf, Musholla Berada Dimana?

     Dua pekan kemarin tiba-tiba kegiatan saya di luar rumah sangat padat. Banyak urusan yang harus diselesaikan, yang durasi waktunya tidak bisa diprediksi, sehingga memaksasaya untuk sholat di area publik.
Saya sebut memaksa karena saya tidak bisa memilih tempat. Nyaman atau tidak, properatau tidak, saya harus mengerjakannya disitu. 
     Jika saya beruntung, saya mendapatkan musholla yang bersih, wangi dan nyaman. Tempat wudhu yang tidak kumuh dan sangat layak dari segi kesucian.
Tapi, jika sedang kurang beruntung (dan situasi ini lebih sering saya jumpai), saya akan mendapatkan kondisi musholla yang.. ah, sudahlah... bahkan mendeskripsikannya pun saya enggan. 
     Belum lagi tempat wudhunya. Di salah satu mall di Jakarta Selatan, tempat wudhu berada di lantai tiga, sementara mushollah (tepatnya ruangan darurat yang disebut musholla) berada di lantai empat. Atau ada juga tempat wudhu ya bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, terlihat oleh orang lalu lalang di sekitar. Untuk perempuan berkerudung, ini tentu dilema, dan menuntut pemikiran gimana triknya untuk membasuh tangan, kaki dan mengusap rambut, tanpa terlihat orang lain.
      Itu sebabnya sebelum pergi seringkali saya mempersipkan wudhu sejak dari rumah sebelum berangkat dan menjaganya agar tidak batal.
      Mukenah? Jangan tanya lagi gimana kondisinya, lembab dan kusut pastinya (meskipun ada beberapa musholla yang menggantung mukenah untuk menjaga kelayakan menghadap Gusti Allah). Sejak lama saya tak pernah meminjam mukenah di musholla umum. Karena saya berbusana muslim syar’i, saya tinggal menjulurkan manset tangan untuk antisipasi lengan baju tergeser diatas pergelangan tangan pada saat takbir.
     Saya sekian tahun tinggal di Malaysia. Maka, mohon maaf jika saya harus membandingkan dengan kondisi musholla disana. Saya dan keluarga doyan jalan. Menyusuri beberapa bagian Malaysia. Baik menggunakan mobil pribadi maupun transportasi publik. Populasi muslim yang besar di negara itu difasilitasi pemerintahnya dengan sarana beribadah yang layak. Surau (red: musholla) di mall-mall yang saya kunjungi selalu menempatkan area laki-laki dan perempuan secara terpisah (bukan hanya dipisahkan oleh separator atau papan 2/3 badan atau tirai) tapi benar-benar terpisah ruang. Lengkap dengan tempat wudhu masing-masing di dalam ruang tersebut. Pun di rest area jalan tol, layak dan nyaman untuk sholat. Beberapa diantaranya dikonsepkan semi out door dengan angin yang semilir menerobos surau. Tak perlu terburu-buru menyelesaikan ibadah karena tempat sangat nyaman. Di beberapa terminal bus dan LRT, mukenah juga tersedia rapi, meski luas ruangan terbatas tapi sangat layak untuk beribadah. Di sebelah lemari dan gantungan mukenah terpasang cermin untuk merapikan diri. Jika tempat wudhu terpisah dari ruangan sholat, biasanya tersedia sandal atau bakiak untuk berwudhu. Itu sebabnya saya tak segan mewakafkan mukenah di sarana publik karena pasti terawat dan layak digunakan.
    Di Jakarta (semoga di wilayah lain pun demikian) beberapa mall juga mulai memperhatikan kelayakan dan kebersihan mushollanya. Harapan saya sih tempat wudhunya juga diperhatikan. Terpisah antara laki-laki dan perempuan. Rest area di cipularang juga masjidnya bagus-bagus. Semoga mulai juga ditata musholla (dan tempat wudhu pastinya) di tempat wisata, terminal dan stasiun.



Jakarta, 12 Februari 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar