Pertambahan usia benar-benar mengubah semua kebiasaan, planning kegiatan, acara keluarga dan segala pernak-perniknya. Saya merasakannya. Dulu ketika anak-anak masih di bawah umur, semua agenda sepenuhnya kami, sebagai orang tua, yang merencanakan dan memutuskan. Kalaupun ada jajak pendapat, sifatnya adalah sesuatu yang sekunder. Garis besarnya, tinggal lihat kalender, sekali angkut, langsung dapat tiga anak heheeh...
Kini, yang paling terasa adalah merencanakan kegiatan bersama, lengkap berlima. Yang kini merupakan hal yang langka dan mewah. Terutama memadankan dengan agenda anak-anak. Ingin makan bersama di luar rumah, yang dua bisa, yang lain di kos. Yang di kos pulang, yang satu dead line, yang satu lagi project sekolah. Yang dua free time, yang satu lagi sedang ikut lomba.. Alhamdulillah ala kulli hal, setidaknya semua sehat wal afiyat dan baik-baik saja.
Setelah Covid mereda, dan merasa tak terlalu khawatir untuk bepergian, sebetulnya sejak bulan September-Oktober saya sudah mulai browsing dan hunting lokasi main. Akan family time kemana di akhir tahun 2022. Beberapa tujuan sudah saya lingkari (sambil meraba dompet tentunya). Sudah pula mencocokkan dengan libur akhir semester si bungsu. Sudah pula saya sounding ke suami tentang hasil perburuan informasi yang sudah saya himpun ini. Sudah pula mencoba cari bocoran semua anggota keluarga tentang tanggal-tanggal mereka bisa leluasa bepergian.
Tapi sampai awal Desember, kecuali saya dan si bungsu, semua masih samar-samar. Belum nampak hilal, Belum ada yang secara pasti menyepakati tanggal. Semua masih sebatas 'kayaknya bisa, kayaknya oke'. Tapi masih mentah, gitu... Meminjam istilah Gen Z, "Maklum budak corporate". Di akhir tahun semua karyawan juga ingin cuti. Approval cuti adalah sesuatu yang diperebutkan hahaha...
Hal yang makin memberatkan dan membuat ragu adalah anak tengah sudah bisa dipastikan tak bisa bergabung. Jadwal kampusnya paling beda. UAS tak bisa ambil cuti, bukan? Disini saya sudah merasa bakal main netflix saja di rumah.
Akhirnya, pertengahan Desember, sudah mepet akhir masa liburan sekolah, barulah hilal nampak. Ketemu tanggal yang klop, meskipun anak sulung cutinya hanya tersisa 1-2 hari karena bulan Oktober sudah diambil duluan untuk solo travelling ke Bangkok. Dengan berat hati kami memutuskan meninggalkan anak tengah yang masih UAS. Jangan kuatir nak, kami tetap mendoakan kelancaran ujianmu. Bukankah doa orang safar termasuk salah satu doa yang makbul? Pilihan jatuh ke Cambodia via Malaysia, karena memang tidak ada direct flight Jakarta-Siem Reap. Dan ketahuilah, part yang paling tidak enak saat itu adalah mengabarkan kepada anak tengah, bahwa kami akan pergi (meskipun sebelum-sebelumnya secara selintas kami sudah pernah menyinggung, karena jadwal kampusnya yang berbeda dengan jadwal kami berempat, suatu saat akan ada kemungkin dia terlewat suatu momen kebersamaan). Saya dan suami saling mengandalkan siapa kira-kira yang akan mengabarkan ke anak tengah bahwa kami akan pergi. Tak ada yang beranjak, tentu saja, ini situasi yang tidak menyenangkan.
H-1 saya putuskan untuk mengabarkan ke anak tengah, "Nak, besok kita pergi ya.. Jangan sedih ya ga ikut.. :)".
Apa jawabnya? "Kirain habis aku UAS berangkatnya." Aaah... bener kan, ini sungguh situasi yang tidak membuat nyaman. Saya jawab bahwa jika menunggu UAS selesai, maka ganti yang lain yang tidak bisa, karena rangkaian UAS baru berakhir pekan pertama atau kedua Januari. Anak SMA sudah kembali sekolah, yang bekerja pun sudah kembali bekerja.
Sebetulnya sengaja kami pilih destinasi ini, agar si anak tengah tak terlalu merasa ditinggalkan, karena dua-duanya sudah pernah kami kunjungi bersama. Tapi yaaah namanya ditinggalkan, tetap tidak menyenangkan, bukan... yang meninggalkan juga diliputi perasaan ada yang tertinggal..
Kalau dipikir lebih jauh, ini adalah pelajaran dasar. Bisa jadi ini hanya permulaan dari ketidaklengkapan anggota keluarga. sekarang hanya satu anak, entah di masa nanti... ketika satu demi satu punya kesibukan sendiri-sendiri, keluarga masing-masing. Lama-lama, kembali tinggal kami berdua sebagai orang tua. Hmmm.... baru membayangkan saja, saya sudah merasa sepi...
Atau, ini sebagai pengingat, suatu saat kita memang akan sendiri, kembali ke bumi, ke Sang Maha Pemilik, Allahumma inni as'aluka husnul khotimah...
Jakarta, 20 Desember 2023 (tapi diposting di 2 Januari 2024)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar