Jumat, 09 Februari 2024

Me Time

     Jadi orang tak supel itu rasanya..... 

     Eh, sebentar, tak supel disini bukan berarti tidak suka bergaul, anti sosial atau kuper, ya, tapi biasanya untuk membuka circle baru, perlu perantara pihak ketiga, entah itu seorang teman, atau wadah kegiatan. Tidak bisa ujug-ujug srawung atau ujug-ujug nimbrung. Karena akan serba kikuk, kuatir salah omong, kuatir salah respon, yang biasanya akan disesali berkepanjangan, sampai malam, sampai berganti hari. Meminjam istilah Gen Z, akan over thinking setelahnya. Oh ya, satu lagi, jika menggunakan telpon akan lebih memilih texting daripada telponan. Kecuali kepada teman yang merasa sefrekwensi. yang jika telponan, meskipun jarang tapi bisa lamaaaa dengan topik yang random. 

Bisa ga sih yang begini masuk dalam bibit-bibit introvert?

     Masa saya muda dulu, istilah ini tak lazim digunakan. Paling banter sesorang dikategorikan pendiam atau periang kah. Supel atau kaku kah. Pemalu atau malu-maluin kah.. eh gak lah heheh.. Jaman dulu tak marak pengetahuan tentang psikologi, kecuali jika memang kita berkecimpung mempelajarinya di lembaga pendidikan formal. Berbeda dengan masa ketika interenet makin terbuka luas. Seiring dengan jurnal-jurnal penelitian diterbitkan secara digital, sehingga masyarakat bisa leluasa mengakses. Ditambah sosial media semakin meluas. Berkahnya, ilmu-ilmu psikologi, parenting dan sejenisnya berlimpah mengedukasi. Maka, saya yang dalam kurun waktu lalu hanya mengenali diri sebagai pribadi yang canggung dan tak banyak teman (meskipun masa muda saya sangat aktif dan banyak kegiatan intra dan ekstra kurikuler) akhirnya dengan bantuan serangkaian test dan beberapa short course yang saya ikuti, mulai mendeteksi diri bahwa saya masuk dalam kategori introvert

     Level light sih. Awalnya. Tapi tiga tahun terakhir ini...

     Sebuah jurnal yang saya baca, menyatakan bahwa seiring bertambahnya usia level introvert seseorang cenderung bertambah. Ini juga disebut sebagai pematangan intrinsik. termasuk dalam hal ketelitian dan agreeableness. Lha kok iya di saya ...

     Kenapa ya? Entahlah, mungkin karena circle makin kecil dan sudah malas drama. Dan makin kesini, lokasi favorit saya adalah rumah. Bisa banget seharian di rumah, kecuali jika ada kewajiban yang harus ditunaikan di luar rumah. 

     Dari situ juga maka salah satu lokasi me time saya adalah di rumah, terlebih ketika sedang sendiri. Segera pulang setelah berkegiatan di luar. Mendengarkan spotify rapat di telinga adalah charging buat saya. Pernah di suatu timeline, di Kuala Lumpur, mobil adalah lokasi me time saya. Menyetir sendiri selepas antar jemput anak-anak ke sekolah atau menyetir sendiri ketika berbelanja, adalah saat-saat charging. Memilih channel radio yang saya sukai, sesekali ikut bernyanyi. Mengikuti irama lagu dengan mengetuk-ngetuk setir. Menggelengkan kepala atau menggoyangkan bahu dan kaki. Atau dada ikut terhunjam jika lagunya berserak derai. Sungguh karena hal itu yang membuat keriaan penuh melingkupi dada. Sesekali juga memacu mobil dengan kecepatan lebih. 
Waktu itu, salah seorang anak saya bisa mendeteksi kebahagiaan saya ketika kami berdua di dalam mobil. 
"Ibu menikmati sekali nyopir mobil." Nada bertanya tapi telak sekali.
"Capek lah nak, makanya kalau sekolah selesai langsung stand by di drop point ya, supaya ibu tidak perlu telpon, cari sana cari sini". Elak saya, masih belum bisa memetakan perasaan. Sejujurnya memang capek. Jarak sekolah pulang-pergi plus les-les, juga kajian maupun belanja, jika ditotal bisa setara Jakarta-Bogor pulang pergi. Tapi entah kenapa, saya enteng menjalaninya. Sepertinya teori neuroscience bahwa seorang perempuan memerlukan merilis 20.000 kata per hari untuk mengekspresikan diri, bisa tergantikan dengan me time a la saya ini.

     Namun rasa ini hilang ketika pindah kembali ke Jakarta. Di kota ini menyetir  merupakan hal yang paling horor, karena lalu lintas yang sangat kacau balau. Saya memutuskan tak lagi menyetir mobil sendiri. Dan ketika kau tak lagi menyetir, itu artinya tempat dudukmu adalah di samping sopir, siapapun sopirnya, kau tak lagi sebagai pengendali utama dalam hal apapun, termasuk memilih jenis lagu atau channel yang kau sukai. Termasuk jika kau ingin menyanyikan lagu itu. Termasuk jika lagu yang kau sukai tiba-tiba berpindah channel, ya sudah, let it go. Kenapa? ya itu tadi sudah malas drama. Dan itulah kehilangan terbesar saya. 
    
      Hingga kini, saya belum kembali mampu menggali, di titik-titik manakah saya bisa menempatkan me time. Sementara ini mungkin menulis sambil mendengarkan musik di spotify bisa jadi alternatif. 20.000 kata per hari saya, yang tak terungkap kepada sesiapa, bisa sedikit tersalurkan.  Seperti saat ini. Tak perlu lagi merasa perih ketika seseorang berbicara, "Ibu, ssttt..", meskipun dengan nada bercanda, disaat saya sedang menggebu ingin membahas sesuatu secara random. 
Hanya saja, rasanya harus lebih selektif mana tulisan yang bisa dipublis dan mana yang harus diprivat.  Untuk mengindari huru hara.... hehehe


Jakarta, 9 Februari 2024

     

     



     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar