Selasa, 18 November 2025

SAYA PATAH HATI

Saya ini orang rumahan. Banget. Saking bangetnya, saya minus dengan segala macam hang out dan kumpul2. 'Kureng' kata anak jaman sekarang. Kumpul sih, tapi perlu lokomotif untuk menarik saya. Semacam undangan atau alasan untuk hadir. Jika tiba2 saya harus datang nongol duluan, mungkin inisiatif saya tumpul.

Hidup saya monoton, hanya sebatas rumah, anak dan suami. Serta beberapa kegiatan sosial dan keagamaan.

Teman? Limited pakai very. Sahabat? Dulu pernah punya, tapi beberapa sudah mendahului berpulang, beberapa lagi menjadi asing dan beberapa yang tersisa memudar terluka. Sedangkan  kelemahan saya adalah susah membuka persahabatan baru. Mungkin karena tidak ingin kecewa yang berulang. Atau justru takut akan drama2 yang justru menoreh dada.

Nah. beberapa bulan belakangan, anak bungsu saya, yang selama 18 tahun ngintilin saya dan agak saya kekepin ('agak' artinya saya bebaskan untuk ikut lomba apapun, ekskul apapun, hang out kemanapun, bahkan sleep over di rumah temannya atau camp, tapi tetap under control), harus kos karena kuliah di kota yang berbeda.

Bukan tiba-tiba, karena sejak awal merancang cita-cita, dia sudah mention beberapa kampus di luar kota. Artinya sudah disounding jauh-jauh hari. Tidak ada satu universitaspun di dalam kota yang dilirik, kecuali swasta sebagai cadangan.

Maka, saya tenang2 saja, legowo merestui. Mempersiapkan segala perlengkapan, nasehat2 intermezzo, dan survey awalan tentang kota-kota tersebut.

Tapi, ternyata itu adalah legowo semu. Entahlah, ketika hari itu tiba, terasa ada yang kosong di hati saya, hidup saya. Saya yang biasanya direpotkan dengan menyiapkan bekal, mengantar-jemput, memenuhi permintaan2 khusus, komplen dengan belanja dadakan bahan tugas, mengajari, memberi support dan masukan beberapa hal, tiba2 hilang.

Jika kesibukan berkurang, saya bisa menyiasati dengan pengganti lain. Total fokus di trading yang sudah saya tekuni jaman pandemi covid misalnya. Juga wacana menuntut ilmu lainnya.

Namun, yang tidak bisa disiasati adalah ada kamar yang kosong, yang jika penghuninya lalai bebersih, memantik kultum dari mulut saya. Ada rak sepatu yang longgar, karena beberapa pasang sudah berpindah tempat. Ada 'ghibah' random yang terhenti karena 'ghibah' via texting tak seseru duduk atau rebahan berdampingan. Singkatnya, ada hati yang hening.

Saya tahu, saya tak sendiri, banyak orang tua lain merasakan hal yang sama. Pasti begini juga yang dirasakan ibu saya ketika melepas saya kuliah di luar kota.

Kemudian, hiburan terbesar saya adalah menghibur diri sendiri. Memahamkan diri bahwa inilah fase kehidupan. Mencoba memantik rasa syukur, Alhamdulillah Allah memberi saya kesempatan sejauh ini melewati tahap demi tahap. Dan saya berdoa kiranya Allah mengizinkan tahap2 selanjutnya, saya bisa mengalaminya dalam lingkup rahmat dan ridhoNya.

Jakarta, 3 November 2025

Ditulis dalam perjalanan pulang selepas menegok si bungsu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar