Di sebuah tayangan televisi entah tahun kapan, mata saya berbinar melihat Marble Mountain di Da Nang Vietnam. Pembawa acara yang ceria dan fotografernya, handal mencari angle2 bagus. Sungguh menggoda saya untuk merencanakan bepergian kesana. Sejak saat itu, setiap menjelang akhir semester, saya browsing how to go nya, mengingat di Vietnam transportasi publik tidak terlalu banyak pilihannya.
Tapi perginya tak jadi-jadi.
Salah satu sebabnya, keduluan suami saya yang sempat dinas kesana. Testimoninya tentang Hanoi tidak meninggalkan impression yang bagus. Entahlah, apakah memang setidakmenarik itu, atau karena hari2 selama disana full cari duit (haha) sehingga tidak sempat eksplor kota.
Sampai akhirnya... Jeng..jeng..
********
Memasuki bulan berakhiran ber-ber, seperti biasa, saya baru mulai serius mencari destinasi menarik untuk bepergian bersama keluarga. Kebersamaan yang mahal. Makin tahun, anak2 makin beranjak dewasa, makin tak leluasa untuk bepergian bersama. Karena mereka sudah punya kesibukan masing2.
Nah, kalo dipikir-pikir, kok ga kapok2 ya, saya ini. Setiap tahun selalu merencanakan bepergian secara dadakan. Sudah pernah nyaris berantakan padahal.
Sebenarnya sih, pengennya bikin planning jauh-jauh bulan. Saya kagum sama orang yang tertib, yang sudah hunting tiket promo di bulan April, untuk kepergian Desember. Atau hunting Januari untuk kepergian Juni. Dapat tiket harga murah adalah sebuah pencapaian prestasi tentunya..haha.
Tapi apalah daya, ada kejadian tak terduga dan hal lain yang membuat saya ragu dan on off menyusun agenda. Dan tentunya bingung menyamakan tanggal libur kami semua.
Ya sudah, menetukan lokasi saja dulu.
Polling suara terbanyak adalah Vietnam dibanding lokasi satunya, dimana sebelumnya kami sudah pernah mengunjunginya. Suami menyerah. Karena Vietnam sisi yang ini, Sa Pa dan Fansipan Mountain, kalau beruntung akan bertemu salju. Catat ya : KALAU BERUNTUNG. Artinya, bisa ya, bisa tidak. Tergantung takdir hehe.
Back packeran, seru sepertinya.. Toh anak2 sudah beranjak dewasa, bisa tarik koper atau panggul ransel sendiri2. Saya pun mulai cari2 informasi tentang slipper bus dari Hanoi ke Sa Pa.
Eh ternyata masih ada masalah, cuti suami dan anak sulung belum clear. Artinya, kalaupun berangkat, status mereka adalah WFA, Work From Anywhere. Artinya lagi, boleh ga hadir di kantor, tapi harus stand by online. Mana mungkin backpackeran tapi online dan ngadep laptop.
Iseng saya cari2 travel islami yang punya program ke Vietnam. Lah, Alhamdulillah, nemu...
Dari beberapa pilihan saya memutuskan memilih salah satu. Daftar untuk 5 orang plus 1 untuk ibu saya, meskipun sayangnya ibu saya tak berhasil berangkat karena issued renew paspornya terlalu mepet dari jadwal kebrangkatan. Pihak travel menolak dan tak berani ambil spekulasi.
Kenapa travel islami? Ya, karena ingin leluasa makan halal tanpa merasa khawatir, mengingat mencari makanan halal di negara seperti ini tentunya tidak mudah.
Oke, Bismillahi majreha wa mursaaha inna rabbi laghofurur rahim... berangkat
Day 1.
Ga enaknya ikut travel adalah, hari di perjalanan dihitung sebagai Hari Pertama. Biasanya belum ada kegiatan apapun karena waktu hanya habis untuk perjalanan. Beda dengan jika kita bepergian mandiri, kita akan cari first flight, diupayakan agar di hari ini, ada lokasi yang bisa dieksplor. Gak mau rugi huehehe..
Nah begitu juga dengan travel ini. Jam 9.30 pagi kumpul di CGK, untuk pembagian ini dan itu, jam 13.30 take off menuju Saigon, transit 4 jam, kemudian ganti domestic flight menuju Hanoi. Plus drama2 delay, jam 23.00 baru sampai di Hanoi.
Lama? Iyaaaa.. Jakarta-Hanoi lamanya seperti Jakarta-Jedah. Mana Vietjet ini kursinya keras banget haha... Pelajaran penting ini. Kalau pilih travel perlu ditanyakan pesawatnya apa. Terus harus browsing pesawat tersebut seperti apa. Supaya bisa ganti travel yang pesawatnya nyaman? Bukan, mahal itu, tapi supaya siap mental.. ckikik
Day 2.
Mengawali hari dengan sarapan di hotel. Restaurantnya asik, menunya banyak. Sayangnya kami harus cermat membaca label2 makanan yang dipasang di depan meja saji. Ini bagaimana sih, pork dan no pork berjejer damai. Tapi hati saya tak damai.
Memang sih, ada label biru untuk makanan 'aman' dan label putih untuk makanan pork. Spring roll sayuran dan spring roll pork, tapi apakah mereka menggoreng dengan wajan yang sama? Ada lagi, steam rice dan pork berbumbu ditempatkan dalam wadah saji tertutup, yang uap panasnya dempet2an saling menyapa. Duh ini gimana konsepnya. Selera makan langsung drop. Jadi sibuk menyeleksi lebih teliti sebelum memilih makanan. Sepertinya saya salah memilih travel. Mereka kurang faham dengan konsep makanan halal.
Oke, lanjut.
Halong Bay.
Jarak Hanoi-Halong Bay sekitar 2,5 jam perjalanan bus. Halong Bay adalah teluk di Vietnam Utara. Indah. ini serupa dengan PhiPhi Island di Phuket dan Hoping Island di Langkawi. Teluk dengan banyak pulau kecil tengahnya. Yang membedakan adalah bisa ikut wisata cruise dan sensasi makan siang di dalamnya. Sensasinya seperti apa? Ya balas dendam aja sih, bisa makan tanpa was-was karena chefnya memasak hanya sesuai request halal dari rombongan kami. Oh Ya, karena kami rombongan 5 keluarga, maka cruise ini hanya ditumpangi oleh kami saja.
Disini, ada goa yang bisa dikunjungi. Namanya apa ya? karena pengucapannya susah, saya suka lupa nama2 jalan dan tempat di Vietnam ini. Terus, jangan lupa siapkan stamina karena harus menaiki tangga-tangga yang banyak itu. Ada juga snorkling dan kayaking. Sayangnya, karena dalam rombongan kurang peminat, snorkling dan kayaking ini diskip. Padahal anak saya berminat. Ini salah satu kelemahan pergi bersama travel, sih. Kurang leluasa, harus mengikuti mayoritas aspirasi rombongan.
Suhu disini lumayan bersahabat. Saya tidak membaca termometer suhu, tapi kalau dirasa2, seperti Bogor lah ya. Anak saya yang pernah Boarding School di Bogor, mengiyakan pendapat ini.
Day 3.
Cat Cat Village.
Tadinya, sebelum browsing, saya kira Cat Cat Village, sesuai namanya, adalah pedesaan penangkaran kucing, atau bakal bertemu banyak kucing. Tapi ternyata ini adalah pedesaan orang-orang asli Vietnam. Sebagian menyebut sebagai suku minoritas Vietnam. Merupakan pedesaan vintage di Barat Laut Vietnam, di lembah Muong Hoa, yang dijadikan desa wisata. Desa yang berkontur naik-turun. Bertangga-tangga. Sayangnya, terlalu banyak sentuhan hingar-bingar lampu dan bangunan modern, yang kontras dengan air terjun dan bebatuan alami. Tempat ini lebih layak disebut sebagai tempat belanja oleh2, sih. Sepanjang kaki melangkah, kiri kanan isinya hanya orang jualan souvenir dan cemilan. Rasanya keasliannya sudah pudar.
Saya tidak merekomendasikan tempat wisata ini untuk dikunjungi. Tidak sebanding dengan lama perjalanan Hanoi-Cat Cat Village sejauh 5,5 jam. Justru, kalau saya baca dari Trekking Sa Pa.com, yang indah adalah perjalanan trekking dari Sa Pa ke Cat Cat. Melintasi hamparan sawah hijau, jembatan bambu dan pedesaan sejauh 30 menit jalan kaki. Sayangnya saya tidak merasakannya sendiri.
Di sini suhu mulai drop, 10 derajat celcius di siang itu. Jaket-jaket sudah mulai berbakti kepada tuannya.
Day 4
Fansipan Mountain dan Rong May, 6 derajat celcius.
- Gunung Fansipan berjarak sekitar 19 km dari Sa Pa, sering disebut sebagai Roof of Indochina atau Indochina Summit, dengan ketinggian 3.143 mdpl. Puncak tertinggi di Indochina. Nah gunung ini nih, daya tarik kami yang terbesar untuk mengunjung Vietnam. Untuk mendakinya, ada fasilitas cable car dengan lintasan sepanjang 6.282 meter. yang ditempuh dalam waktu 15 menitan, dari lembah Muong Hoa, memudahkan pengunjung untuk mendaki, yah meskipun ga sampai puncak2 amat. Dari pemberhentian cable car, pengunjung masih harus menaiki sekitar 600an anak tangga lagi untuk sampai ke puncak (saya ga ngitung sih, ini konon). Bisa sih dipangkas ga 600 amat tangganya, kurang setengahnya dengan dibantu menaiki trem. Tapi trem di peak seasson seperti Desember gini, ngantrinya ampun2an. Ada 3 jam, deh. Mana budaya antrinya buruk banget, silang sengkarut ga karuan. Kalau fisik prima mending naik manual eh, pakai kaki (eh apa sih istilahnya?). Toh 600 anak tangga ga langsung jreng, bisa dicicil, semacam base camp gitu, setiap titik istirahat bisa melihat Big Buddha dan kuil-kuil beribadah.
Sebetulnya Bulan Desember ini adalah bulan yang digadang2 bisa menyentuh salju di puncak Fansipan. Sayangnya Kami belum beruntung. Tidak ada salju kali ini. kami hanya bertemu suhu dingin, angin was wis wus menampar wajah, yang sanggup bikin tubuh oleng jika tidak langsung sigap berpegangan. Meraih apapun sebagai penyelamat. Selain itu, kabut tebal dan basah mengurangi jarak pandang untuk melihat pemandangan dari puncak gunung. Sesekali, di puncak ketinggian, ketika angin bertiup menghalau kabut, tampak hamparan awan serasa berdampingan, sejajar dengan posisi berdiri saya, dan bentangan dataran hijau di bawah sana.
Oke, saatnya turun gunung dan berpindah ke lokasi lain.
- Rong May adalah Glass Bridge, jembatan kaca setinggi 2.333 meter. Tempat yang ideal juga untuk hunting awan. Untuk menaikinya harus melalui terowongan gunung batu, kemudian menggunakan lift setinggi 305 meter (setara gedung 102 lantai). Sayangnya, lagi2 kabut tebal membuat jarak pandang sangat terbatas. Saya bahkan tak bisa melihat anak saya, 5 meteran di depan saya, yang excited berjalan duluan di jembatan itu. Tapi buat saya ini hal baik. andai tak terhalang kabut tebal, mungkin saya tak seberani itu untuk menaiki jembatan kaca ini. Iya, cemen memang.
Sebetulnya menurut trip advisor, best view untuk mengunjungi Fansipan dan Rong May ini adalah bulan Maret-April, ketika musim hujan sudah lewat, cuaca mulai hangat, tapi belum panas2 amat. Tapi meskipun cuaca tak cerah, pun tak bertemu salju, pengalaman hari ini sesuai dengan yang saya harapkan. Alhamdulillahi rabbil aalamiin.
Day 5
Saatnya kembali ke Hanoi, 5,5 jam perjalanan darat. Pemandangan antar kota tidak bisa dinikmati. Mending tidur. Vietnam ini tidak terlalu bersih. Tumpukan kresek sampah mudah ditemui di depan2 toko. Kecuali di pusat kota, baru deh bersih. 11-12 sama Jakarta.
-Train Street.
Suhu Hanoi kembali menyapa, Train street terletak di pusat kota Hanoi. Rel kereta yang masih aktif dilalui ini, menurut saya, sudah tidak se-etnik dulu2. Dulu kiri kanan masih rumah, terkesan alami dan memberi suasana perkampungan. Di foto2 lama yang beredar di internet, tampak masyarakat berkegiatan di samping rel, dekat sekali. Ketika kereta akan lewat, mereka menepikan kursi, jemuran, tenda ataua apapun yang berpotensi tersenggol kereta.
Tapi sekarang, kiri kanan penuh dengan kafe. Plus gemerlap lampu warna warni (meskipun siang hari tetap gonjreng). Meja dan kursi kafe berderet rapi, yang kemudian harus sigap disingkirkan ketika kereta lewat. Di musim liburan seperti ini rame sekali, bahkan untuk berjalan saja susah. Kesan vintagenya sudah hilang. Kata anak saya, "Cuma kereta, ini". Haha.. betul, di Jakarta juga banyak. Intinya : not recommended.
- An Noor Mosque
Ini salah satu masjid di Hanoi. Waktu yang sempit, hanya cukup untuk sholat jama' qosor Duhur dan Ashar. Biasanya jika mengunjungi masjid, saya suka noleh2 melihat bangunannya. Terlebih di negara dimana Islam sebagai negara minoritas. Lagi-lagi saya merasa saya salah memilih travel. Sampai hari ke5, ini satu2nya masjid yang kita kunjungi. Harus cepat-cepat pula. saya hanya sempat mengamati tempat wudhu wanita yang ditutup pembatas kain tebal. Bersih. Dan tidak kuatir terlihat lawan jenis jika berwudhu. Sayangnya toiletnya kekurangan air. Masjidnya sepi, hanya rombongan kami saja yang mengisi. Mungkin karena memang bukan waktunya sholat.
Day 6
Time to go home. Masih dengan Vietjet yang kursinya keras itu. Masih dengan drama delay, meskipun tidak selama pas berangkat.
Bye Vietnam.
Terima kasih Ya Allah, sudah memberi kesempatan melihat sisi bumi-Mu yang lain.
Jakarta, 8 Januari 2025
Note : Jika belanja souvenir di Vietnam, tawar ya, 50-60%. jangan lupa cari referensi harga, banding dengan toko sebelah. Untuk kopi Vietnam, saya lebih suka beli di supermarket. Tanpa menawar dan rasanya jelas.
Note lagi : 27 Januari, anak saya melihat situasi Fansipan Mountain via sosmed. You know What? Sedang turun salju gais... Ya Allah, nyesek ga sih, selisih bulan. Saya datenganya kecepetan .. Udik ga sih? Banget hahaha, namanya juga tinggal di negara tropis, meskipun sebelumnya sudah pernah visit negara bersalju, tetap saja udik...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar