Senin, 06 Januari 2025

Not Everyone is Your Friend

Saya baru saja membaca sebuah artikel, tentang sebuah pertemanan di Jerman. Bahwa disana, seseorang tak mudah untuk menjuluki orang lain sebagai teman. Perlu waktu dan chemistry agar benar-benar ngeklik untuk menyebut seseorang sebagai teman. Dan circle itu biasanya jumlahnya tak begitu besar. Sebutan "my friend", adalah sesuatu yang eksklusif. Biasanya ditandai dengan undangan privat party atau birthday. Bisa juga hangout dan keintiman-keintiman serupa. 

Selebihnya apa? 

Mereka menyebut sebatas "kenalan". Dalam artian kenal tapi tidak begitu dekat. Kategori kenalan ini bisa saja rekan kuliah. Kerja kelompok sih.. atau diskusi bareng sih.., tapi belum tentu berteman. Simbiosis mutualisme saja. Atau ada yang namanya rekan kerja atau kolega, meskipun sering makan siang bareng, tapi belum dianggap teman. Old friend, meskipun dulu pernah sekolah bareng, belum tentu dianggap friend masa kini.

Pemilihan istilah-istilah tersebut  menunjukkan bahwa relationship tersebut not as close as that. Level ini tidak ada keharusan untuk saling ngobrol. Menerima sapaan "Hallo" ketika berpapasan saja, sudah merupakan etika yang bagus dalam pergaulan.

Begitu kira-kira isi artikelnya. Valid? Entahlah, saya belum pernah punya kenalan yang pernah tinggal di Jerman atau bahkan Native Jerman itu sendiri. Tapi Di kolom komentar dari artikel tersebut,  banyak pembaca yang pernah tinggal di Jerman, setuju dengan isi artikel.

Kemudian saya membandingkan dengan situasi pertemanan di Indonesia. 

Disini kita mudah saja menyebut seseorang dengan sebutan "teman". Semua orang, asal pernah ngobrol intens, ngopi bareng, ngerjain proyek bareng, langsung disebut teman. Level kedekatan ini akan naik ketika disebut sahabat atau teman akrab. Nowdays istilahnya se-circle atau se-frekwensi.

Enak sebetulnya tinggal di Indonesia, kultur budayanya memungkinkan untuk mempunyai banyak teman. Ada geng arisan, ada geng ibu-ibu jemput anak sekolah, ada geng kantor, geng taklim, geng pilates dan bisa jadi geng-geng ini akan saling bersinggungan dan terbentuk geng baru berbasis kesamaan. contoh : geng taklim yang barengan jemput anak sekolah.. Geng dalam geng. Grup Whatsapp komplek, tapi terus bikin lagi grup whatsapp komplek sempalan karena sama-sama pelihara kucing.. Gitu aja terus, sampe kucingnya ikutan dibikinan grup playdate haha.

Ini tentu saja surga bagi orang-orang dengan karakter terbuka dan ekstrovert.

Tapi untuk orang dengan karakter introvert, berbanding terbalik. Mungkin type pertemanan a la Jerman lebih nyaman. temannya dikit tapi dalem. Tapi ini kayanya, sih ya... Karena makin berumur, menemukan teman yang "dalem" ini sepertinya tak semudah dahulu kala.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar