Seringkali kita mendengar ungkapan bijak yang bunyinya:
"Berkumpullah dengan orang-orang baik agar kau pun menjadi baik" .
Atau,
"Jika kau ingin tahu siapa dirimu, lihatlah dengan siapa dirimu berteman".
Karakter seseorang berubah-ubah. Berkembang sesuai perkembangan usia. Pada masa kanak-kanak karakter terbentuk dari lingkaran terdekat, yaitu keluarga. Nilai dan kebiasaan yang berlaku di sebuah keluarga akan tertanam dan mewarnai perilaku si anak.
Itu sebabnya sangat penting mewarnai rumah dengan karakter positif untuk tumbuh kembang anak-anak. Agama dan akhlak adalah poin penting sebagai pondasi dalam pembentukan karakter. Maka adalah wajib bagi orang tua memberi contoh dengan akhlak dalam mendidik, karena anak hanya perlu contoh, bukan sekedar omongan.
Semakin bertambah usia, karakter seseorang akan terbentuk, selain dari keluarga, juga dari lingkungan. Bahkan akan ada satu titik dimana dalam 24 jam anak akan lebih sering berinteraksi dengan lingkungannya dibanding dengan keluarga. Jika karakter bekal dari rumah kurang kuat, sekalinya bertemu dengan lingkungan yang kurang baik, bubar sudah semuanya... Naudzubillah.
Ga usah jauh-jauh lingkungan deh (yang jelas-jelas berinteraksi setiap hari --teman di sekolah, geng, tetangga atau apalah) kejadian yang suatu saat tiba-tiba terjadi disuatu tempat kadang langsung mempengaruhi karakter kita kok. Contoh yang sering kita lihat, di transportasi publik seperti LRT atau monorel, jelas tertulis pada stiker disitu bahwa kursi itu untuk manula, wanita hamil atau disable. Eh, malah diduduki pemuda usia mahasiswa atau orang kantoran usia muda. Sementara orang yang berhak atas kursi itu malah berdiri berpegangan erat di tiang-tiang LRT.. Biasanya yang seperti itu nular banget. Melihat satu dua orang usia muda duduk di kursi yang bukan haknya, maka yang lain akan mengikuti. Meski kadang Alhamdulillah sih, ada yang nyadar dan berdiri mempersilakan kursi kembali untuk yang berhak.
Yang pernah saya alami, salah satu kejadian, di jalan raya ketika tiba-tiba saya diklason kendaraan lain yang tak sabar ingin memotong jalan (disini klakson itu sensitif banget, orang jarang menggunakan klakson tanpa alasan yang sangat kuat, macet sekalipun. Makanya ketika seseorang diklakson tanpa alasan yang jelas, itu bikin tersinggung berat) entah kenapa saya tergoda untuk membalas klakson. Bahkan ingin mengklakson mobil lain sekedar untuk pelampiasan kesal. Dan setelah itu saya menyesal..
Kontradiksi dengan kejadian diatas, pernah saya alami juga. Salah satunya di Masjidil Haram, jika masuk waktu sholat tiba, pastilah susah mencari celah kosong untuk sholat. Diantara berjuta manusia dan watak yang berbeda, kadang sulit untuk meminta mereka bergeser sedikit untuk sekedar saya nyelip diantaranya. Nah, ketika ada seseorang yang berbaik hati melambaikan tangan memanggil untuk berbagi tempat, meski berhimpitan, rasanya seperti mendapat oase di gurun tandus. Dan setelahnya, saya terdorong untuk selalu bergeser membagi shaf untuk orang lain, meski berhimpitan juga.
Kejadian selintas seperti ini saja bisa merubah perilaku kita, bisa dibayangkan jika berulang setiap hari, di orang-orang yang secara reguler kita berinteraksi. Betapa perlahan kita akan terbawa pengaruhmya.
Atau, pernah dengar kan ada ucapan, jika seseorang ingin beli rumah baru : "Cari rumah yang cocok itu susah, karena beli rumah tak hanya beli rumahnya, tapi juga lingkungannya. Satu paket.
Jadi memilih lingkungan itu penting karena kebaikan Itu menular, sebagaimana kejelekan pun menular...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar