Minggu, 01 Mei 2016

Kolom Komentar di Media Sosial

Media sosial tumbuh subur sekarang ini. Bak jamur bermunculan di musim hujan. Seiring pesatnya tren internet dan smart phone. Segala macam brand mulai facebook, twitter, instagram, path dan masih buanyak lagi. Setiap tahun ada saja brand baru yang meluncur.

Banyak manfaatnya, diantaranya kita bisa bertemu teman-teman lama yang sudah lama tak ada kabar berita, saling sapa dan tahu kegiatan mereka, keluarga mereka dari postingan atau status yang mereka buat di media sosial.
Sanak famili yang tinggal berjauhan juga bisa saling berkirim kabar melalui sarana ini.

Namanya juga media sosial, media untuk berinteraksi sesama, tentunya tersedia pula sarana untuk merespon postingan kita. Tersedia berupa-ragam emoticon atau kolom komentar sebagai penyemarak suasana. Bahkan portal berita online pun belakangan menyediakan kolom komentar di bagian bawah setelah paragraf penutup setiap judul berita.

Yang namanya berita online bisa dipastikan beritanya pendek-pendek dan singkat. Nah dari kolom komentarlah biasanya saya bisa membaca info-info tambahan dari para komentator, entah berupa link penunjang berita atau pendapat pribadi plus data yang kadang ulasannya lebih berbobot dari berita online itu sendiri.

Saya suka yang beginian.

Tapi belakangan saya justru lebih banyak terganggu dengan kolom komentar ini. Terutama jika beritanya bermuatan agama. Komentar SARA seringkali bertebaran. Binatang yang harusnya anteng di kandang-kandangpun berhamburan keluar. 
Malah seringnya komentar dan isi berita sama sekali ga nyambung.
Atau, jika topik berita adalah tentang profil tertentu, entah artis atau politisi, komentar yang membanjir adalah tentang aib pribadi profil tersebut. Tak jarang ibunya ikut dimaki-maki dianggap tak bisa mendidik anak. 
Seringkali yang saya baca, sesama komentator saling berantem adu kata dan argumentasi karena pendapat yang berbeda. Lagi-lagi kata-kata tak patut yang dengan mudahnya diketikkan dengan gemulai jari. Pendidikan dibawa-bawa, segala atribut keagamaan seperti kerudung diungkit-ungkit. Hujatan merajalela. Saling balas, balapan tajam-tajaman lidah (via ketikan jari)

Mengerikan...

Sebegitu ganaskah kepribadian bangsa yang DAHULU dikenal sopan santun ini? 

Kadang saya lihat si pemilik komentar pedas ini masih berwajah imut seusia anak sulung saya atau keponakan saya.
Di instagram, pernah karena penasaran saya intip si pemilik account, tak satu pun postingan tampak disana, tanpa profil picture pula, dan dikunci. Jadi, untuk apa membuat account? Hanya untuk menghujat?

Tak heran jika ada publik figur yang mempolisikan orang yang menghujat di kolom komentar, karena komentar yang keterlaluan.
Beberapa kali saya baca komentator ini berargumen,
"Kalau ga mau dikomentarin ya jangan bikin account". 
Atau,
"Resiko publik figur ya harus mau dikomentarin".
Juga,
"Jaga perilaku kalau ga mau dikomentarin pedes".

Serem...

Rupanya mereka lupa mana yang namanya berkomentar dan mana yang menghujat.
Mereka lupa bahwa apa yang mereka tulis di internet akan terekam seumur hidup mereka, karena internet adalah perekam jejak terbaik sejauh ini.
Mereka lupa bahwa suatu saat jauh di masa depan, anak cucu mereka juga bisa membaca seperti apa perilaku mereka di masa lalu...

Saya tidak tahu, apakah ini dampak dari meluasnya pengguna internet dan media sosial? Bak pisau bermata dua, semua hal pasti ada sisi positif dan negatifnya. Kalau saya sih terbantu sekali dengan kemudahan internet. Saya bisa membantu tugas-tugas sekolah anak dengan browsing. Worksheet segala mata pelajaran dan variasi tingkatan sekolah bisa dengan mudah saya temukan. Hal mahal yang tidak saya temukan di jaman rekiplik saya sekolah dulu.

Maka, jika dalam pemanfaatan internet dan media sosial yang dipilih adalah negatifnya, digunakan untuk adu omong dan menghujat, betapa sayangnya...
Mungkin diperlukan semacam pembekalan untuk masyarakat tentang pemanfaatan internet. 
Jika selama ini yang bergaung kuat hanya bahaya pornografi dari internet, perlu ditambahkan juga tentang perlunya berkomentar bijak dan santun di media sosial.
Agar stigma yang melekat bahwa kita bangsa yang santun tak hanya menjadi slogan. Tak hanya menjadi kenangan, bahwa dahulu, sekarang dan yang akan datang kita tetap menjadi bangsa yang santun.

Bangsa? Kejauhan kali...
Jadi akan saya mulai dari keluarga kecil saya dulu...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar