Sabtu, 21 Mei 2016

Here, Around Kuala Lumpur

Time flies, empat tahun sudah saya menetap di kota ini. Pusat bisnis Malaysia. Tinggal di sebuah apartemen adalah hal yang baru buat saya dan keluarga. Dulu, semasa tinggal di Jakarta, jauh dari angan saya. Tak terbayang rasanya saya harus berbagi lift dengan orang lain (selain di area publik seperti di mall atau rumah sakit). Berbagi koridor atau berbagi parking area pun tak pernah terlintas. Tinggal di apartemen, saya bayangkan saya tak akan memiliki halaman rumah. Padahal rumah saya di Jakarta pun tak memiliki halaman. Hari gini, jarang sekali kan melihat rumah di perkotaan yang ada halaman depan atau belakang. Teras iya, carport iya. Tapi halaman? Hanya sekian kecil persen yang memilikinya. Sesuatu yang mewah menurut saya. Tapi perlahan disini saya mulai terbiasa. Ada untungnya tinggal di lantai 20. Bebas lalat, nyamuk dan kecoak. Jika jadwal mingguan fogging anti nyamuk demam berdarah sedang berlangsung, aroma fogging tidak terhirup sampai ke lantai rumah saya.

Apartemen ini berada sekitar 10 menit perjalanan dari Twin Tower, icon Malaysia yang melegenda itu. Cukup strategis. Lokasinya yang berhadapan dengan station LRT menambah kemudahan mobilitas kami. 

Banyak hal-hal baru saya dapatkan dari living society disini, yang tentunya sebagai pendatang, harus kami adaptasi. Tentunya yang baik-baik lah yang kami adaptasi. Karena pesan ibu saya kemanapun kami merantau : dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

Beruntung meskipun Malaysia adalah negara asing, tapi jarak yang hanya sepelemparan batu dari negara kita membuat banyak kesamaan yang kadang saya merasa saya tidak tinggal di luar negeri. Ditambah lagi, negara kita dan negara ini adalah serumpun, mempunyai akar yang sama dalam lingkaran Nusantara yang dicetuskan sejak jaman Majapahit dahulu (bahkan ada yang menyebutkan sejak jaman Kertanegara sekitar setengah abad sebelum Majapahit).

Makanan dan jajanan adalah salah satu dari beberapa kesamaan. Rendang, kue lapis, kari adalah beberapa diantaranya yang rasanya sama persis. Makanan lain biasanya punya rasa yang sama tetapi nama yang berbeda. Seperti kue kelepon, disini disebut kue malaka. Bukan masalah besar dalam hal makanan jika kita berlibur kesini.

Sebagai muslim, saya merasakan banyak kemudahan di negara ini, makanan berlabel halal resmi pemerintah (Jakim- Jabatan Kemajuan Islam Malaysia) mudah saya temui disini. Kemudahan melaksanakan sholat juga tak diragukan lagi meskipun kita sedang berada di area publik. Di terminal, stasiun LRT, bandara, sampai mall, semuanya tersedia dalam kondisi layak dan berpendingin ruangan. Terpisah antara jamaah laki-laki dan perempuan, tempat wudhu pun tertutup. Tak heran Malaysia masuk dalam daftar salah satu negara yang ramah untuk turis muslim. 

Ada kesan tersendiri bagi saya dalam kehidupan sosial di negara ini. Untuk suku Melayu, tidak ada budaya bersalaman/ berjabat tangan dengan lawan jenis. Saya tidak pernah bertanya mengapa, tapi dugaan saya karena mayoritas para Melayu disini beragama Islam, yang notabene melarang lawan jenis bersentuhan. Dan itu mereka patuhi. Berkenalan atau bertemu lawan jenis, hanya menganggukkan kepala atau tersenyum.
Begitu saja.
Berbeda dengan kita di Indonesia, jika kita tidak berkenan bersalaman dengan lawan jenis, kita masih berbasa basi dengan menangkupkan  tangan di dada. Itupun masih dualisme, tidak bersalaman di lingkungan silaturahim atau taklim tapi bersalaman di lingkungan kantor atau teman lama... Hehehe...

Seperti halnya di Indonesia, ada budaya cium pipi sesama wanita disini. Kiri- kanan- kiri. Atau kanan- kiri- kanan.
Ya, tiga kali. 
Dan itu sudah pula kami adaptasi. Pertama kali memang agak kikuk karena terbiasa cipika cipiki dua kali. Biasanya yang ketiga sering saya lewatkan alias cipika teman terabaikan tak bersambut. Tapi lama kelamaan saya mulai terbiasa dengan ritual tiga kali ini. Bahkan kadang jika mudik ke tanah air kebiasaan ini ikut terbawa, dan gantian cipika ketiga saya yang tak bersambut huehehehe...

Memang Allah SWT menciptakan manusia dalam beragam suku dan bangsa. Hanya dengan membandingkan hal-hal kecil seperti ini saja sudah membuat kita merasa kaya. Kaya ragam budaya. Agar bisa mempelajari dan saling mengambil hal-hal positif didalamnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar