Baiklah, saya pindahkan kesini kado tulisan pertama yang waktu itu saya posting di facebook, sekian tahun yang lalu, ketika dia berusia 15 tahun.
Yaa Bunayya
Bertambah usiamu
Pun bertambah tanggung jawabmu
Terhadap dirimu
Adik-adikmu
Duniamu
Terlebih Rabbmu
Yaa Bunayya
Ini usia emasmu
Di kisaran usia yang sama Said bin Zaid
Salah satu dari as sabiquna al awwalun
Satu dari sepuluh sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga
Mencapai masa keemasannya
Berperan menaklukkan Persia, Syam dan menjadi gubernur Damaskus
Yaa Bunayya
Ini usia emasmu
Berkaryalah dengan apa yang telah Allah anugerahkan
kepadamu
Jadikanlah mimpi, kerja keras dan doamu
Untuk menggapai ridho Dzat penciptamu untuk tujuan akhirmu
Maka dunia akan berada di genggamanmu
Selamat ulang tahun Zaidan
Cinta ibu padamu, sungguh tanpa syarat
Jakarta, 14 Juli 2014
******
Enam tahun yang lalu saya masih lancar nulis puisi-puisi an seperti itu 😂. Tapi semakin menua semakin seret otaknya. Lebih leluasa menulis ngasal seperti ini..
Melompat jauh ke 22 tahun yang lalu.
Saya teringat hari itu, siang hari, perut saya mulai terasa kram-kram kecil. Saya yang masih nol pengalaman, karena ini anak pertama, mulai gelisah, tapi takut, eh tapi juga santai. Campur aduk perasaan.
Santai karena seminggu belakangan kram seperti ini sering saya rasakan. Di artikel-artikel yang saya baca (di jaman itu majalah yang happening adalah majalah 'Ayahbunda'), ini disebut kontraksi palsu. Tapi sayapun gelisah, takut karena secara tanggal, ini sudah waktunya.
Dan pengalaman pertama, di tanah rantau dengan kultur masyarakat yang berbeda dengan masyarakat yang saya kenal, tempat dimana saya lahir dan dibesarkan. Di tanah rantau itu, mostly orang-orangnya tidak saya kenal, dan juga jauh dari keluarga besar. Namun, kehadiran ayah dan ibu, cukuplah menenangkan saya, minimal saya tak perlu cemas memikirkan bagaimana merawat bayi untuk yang pertama kalinya nanti.
Saat itu hari Rabu, sambil sesekali merasakan nyeri kontraksi, saya memutuskan menemani ibu menyelesaikan nonton sinetron dahulu sampai pukul 20.00. Masa itu sinetron masih bermutu, tidak kejar tayang dan kejar rating tapi kosong pesan moral seperti sekarang.
Kami berangkat berjalan kaki saja karena rumah bidan dekat. Beda beberapa blok saja.
Ealah, sesampainya di sana malah saya disuruh pulang lagi karena bidan tak percaya saya kontraksi karena saya sanggup berjalan kaki dari rumah dan bercerita kronologis kontraksi dengan wajah sumringah..
"Mana ada kontraksi masih bisa jalan kaki, senyum-senyum pula".
Duh.. kesimpulan yang dangkal. Kalo seusia ini mungkin akan saya sangkal pernyataan si bidan. Tapi saat itu, saya manut-manut saja.
Kami pulang, jalan kaki lagi tentunya. Dan bersiap untuk tidur.
Tengah malam, pukul 1, saya merasa ingin ke kamar kecil, dan mendapati tanda-tanda telah bukaan. Saya bilang suami untuk bersiap berangkat ke rumah sakit.
Nah, disini mulai deh dia panik. Mondar-mandir tak jelas. Ibu saya mengingatkan untuk cari mobil sewaan (Sebagai pasangan baru, kami memang memulai semua dari nol, sehingga kendaraan pun kami belum punya).
Kendaraan sewaan sudah didapat, saya pamit suami untuk ke toilet lagi sebelum berangkat.. dan selesai.
Eh tapi, kenapa pintu toilet tak bisa dibuka dari dalam? Saya tak bisa keluar.. saya ketuk pintu toilet.. ternyata ditengah rasa paniknya suami mengunci saya dari luar.. oalah..
Saking paniknya dia malah tak fokus dan grusa-grusu. Lha kalo saya dikunciin di dalam kamar mandi, terus ngapain dia berangkat ke rumah sakit? Kan saya yang akan lahiran ahahah...
Sesampainya kami di rumah sakit...
Pengalaman melahirkan pertama ini, bukan pengalaman yang menyenangkan. Rumah sakit pemerintah di daerah ini sudah terkenal bahwa keramahan tenaga kesehatan tergantung dari di kelas mana kita memilih kamar. Makin rendah kelas kamar, makin rendah keramahannya. Jadi, jatah kamar kelas dua dari kantor, sengaja kami upgrade ke kelas 1, demi membeli sebuah pelayanan (dan keramahan) 😀. Eh, tapi di meja persalinan, rupanya jenis kamar tak menentukan keramahan bidan. Saya yang masih nol pengalaman, belum tahu sama sekali cara delivering baby habis sudah dibentak bentak melulu sama si bidan. Nyali dan mental dibuat drop habis-habisan. Suami yang mendampingi saya, tak luput dari bentakan bidan, "Ini suaminya kalo mengganggu mending keluar saja", hardikan ketus hanya karena suami sibuk membisiki dan menyemangati ketika saya kesakitan, dengan kalimat yang entahlah, bahkan saya sendiri tak mampu mendengarnya. Saya sibuk sendiri dengan rasa sakit saya...
Akhirnya, anak sulung saya hadir di muka bumi ini.
Saya pikir seiring tangisan pertamanya akan mengakhiri proses panjang dan horrible dari para bidan itu. Tapi ternyata tidak. Saya masih menerima bentakan dan tindakan brutal saat mereka menjahit saya. (Di kemudian hari, ketika saya pindah kembali ke Jakarta, ketika paman saya yang seorang obsgyn memasang IUD untuk saya, beliau berkomentar, "Jahitan macam apa nih, berantakan sekali. Nanti kalo lahiran anak kedua, cari dokter yang bisa jahit".. 😂
Tapi, sungguh nantinya ini adalah pengalaman yang berharga untuk dikenang, karena proses melahirkan anak2 berikutnya, jauh lebih manusiawi dan santai. Jadi saya anggap ini adalah salah satu warna di perjalanan hidup saya.
Selepas dari rumah sakit, pulang ke rumah, adalah saat-saat yang tidak terlalu sulit untuk saya. Ibunda saya sangat siaga. Bayi saya selalu tidur malam bersama ibunda, dan hanya diantar ke kamar saya ketika ingin menyusu. Pengalaman begadang meskipun mengubah jam biologis, tidak terlalu parah saya rasakan. Bayi saya mulai tidur malam bersama saya ketika sudah berumur tiga bulan, sudah punya ritme waktu. Sudah punya jam biologis. Dan saat itulah ibunda saya pulang ke kampung halaman.
Hal seperti ini, ibunda lakukan sampai anak saya yang ketiga. Meskipun waktunya lebih pendek dan tidak lagi benar-benar tiga bulan.
What an amazing mommy..
Salam hormat terdalam untukmu, ibu
Kembali ke Zaidan,
Nak, 22 tahun, di usia ini, adalah usia yang matang bagimu. Jika di usia peralihan puberty dulu, kau pernah turutkan segala curioucity, sekarang saatnya untuk memegang erat kembali prinsip2 hidupmu. Start your new you. Your life is your responsibility.
Sekuat apapun kami, orang tuamu, mendorong, jika kau tak ingin melangkah, tak akan ada artinya dorongan kami.
Tapi, ibu percaya, you'll do your best, in Allah's way, for sure.
Dan, Nak, dahulu ibu pernah punya keterbatasan dalam proses membesarkan dan mendidikmu. Seperti pernah ibu katakan, masa itu tak ada akademi pendidikan menjadi seorang ibu yang baik. Parenting dan informasi pada masa itu tak seterbuka era internet ini.
Ketika saat itu ibu melakukan trial and error , sungguh ibu tak bermaksud demikian. Dan jika mengingat itu, sampai saat ini, that's an unconvinience feeling.
Maafkan ibu...
Jakarta, 14 Juli 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar